Get me outta here!

Rabu, 25 Mei 2022

STUDI KASUS KONSELING BERKEBUTUHAN KHUSUS #12 | AUTISME

 Autisme adalah Gangguan perkembangan serius yang mengganggu kemampuan berkomunikasi dan berinteraksi. Gangguan spektrum autisme yang memengaruhi sistem saraf. Rentang dan keparahan gejala dapat bervariasi. Gejala umum berupa sulit berkomunikasi, sulit berinteraksi sosial, minat yang obsesif, dan perilaku repetitif. Pengenalan dini, serta terapi perilaku, pendidikan, dan keluarga dapat mengurangi gejala dan mendukung pengembangan dan pembelajaran

Pendekatan yang digunakan pada Permasalahan yang dialami oleh Konseli

Layanan bimbingan dan konseling untuk anak berkebutuhan khusus bertujuan agar anak mendapatkan bimbingan dan konseling, anak berkebutuhan khusus dapat mencapai penyesuaian dan perkembangan yang optimal sesuai dengan kemampuan, bakat dan nilai yang dimilikinya. Untuk anak autis masalah tujuan pemberian bimbingan dan konseling kepada pembentukan kompensasi secara positif dari kekurangan dan kelainan yang diderita anak. 

Melalui layanan bimbingan dan konseling, para anak autis diharapkan dapat tidak terganggu dengan kelainan yang diderita, melainkan pada diri anak autis diharapkan ada usaha optimalisasikan untuk mengaktualisasikan sisa potensi yang dimiliki. 

Dalam kaitannya pemberian layanan dan bimbingan konseling kepada anak penyandang autis ini, banyak cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi perilaku implusif pada anak autis, salah satunya dengan menggunakan metode ABA (Applied Behavior Analysis) merupakan salah satu metode tata laksana perilaku yang telah berkembang sejak puluhan tahun lalunya.

Beberapa hal yang berkenaan dengan teknik-teknik ABA adalah sebagai berikut: 

1. Kepatuhan dan kontak mata adalah kunci masuk ke metode ABA. 

2. One-one-oneadalah salah satu terapis untuk satu anak. Siklus dan discrete trial training yang dimulai dengan intruksi, diakhiri dengan imbalan. 

3.Siklus penuh terdiri dari tiga instruksi, dengan pemberian tenggangan waktu 3-5 detik pada instruksi ke 1 dan ke 2 

4. Fading adalah mengarahkan anak ke perilaku target dengan promptpenuh, dan makin lama promptdikurangi secara bertahap sampai akhirnya anak mapu melakukan tanpa prompt. 


Perlu kita ketahui bahwa anak-anak yang berkebutuhan khusus seperti anak autis juga sangat memerlukan Bimbingan dan Konseling, karena mereka juga memiliki keterbatan dan kekurangan yang harus kita bimbing dan konseling dengan cara menggunakan salah satu metode di atas. Anak-anak yang berkebutuhan khusus juga harus diberi motivasi dan kasih sayang dari kita untuk menunjangnya 

Rabu, 18 Mei 2022

STUDI KASUS KONSELING BERKEBUTUHAN KHUSUS #11 | GIFTED

 GIFTED


Nama        : Nico


Nico adalah satu di antara sekian banyak anak Indonesia yang dikaruniai kecerdasan luar biasa. Bahasa umum yang sering digunakan adalah gifted. Di antara kehebatan Nico lainnya, dia dapat menyelesaikan susunan warna bricks dalam waktu sekitar 12 detik saja. 

Ketika duduk di bangku kelas II SD itu, Nico belum lancar membaca dan menulis. Bahkan, saat itu Julie sering dipanggil kepala sekolah. 

Nico menjalani tes IQ. Hasilnya, dia memiliki skor IQ 147 poin. Itu cukup tinggi jika dibandingkan dengan rerata IQ anak seusianya di Indonesia. Menurut data brainstats.com, rata-rata IQ warga Indonesia adalah 87 poin. Dengan tingkat IQ seperti itu, meskipun di kelas II SD tidak lancar baca dan tulis, Nico bisa menceritakan terjadinya hujan dengan detail. Bahkan, dia lancar menceritakan kenapa panda langka dan dilindungi. Menginjak kelas V SD, Nico dimasukkan ke Noble Academy. Tapi sebatas ikut ekstrakurikuler STEM (science, technology, engineering, and mathematic) dahulu. Jadi, Senin sampai Jumat Nico sekolah di sekolahan umum dan setiap Sabtu dia ikut di Noble Academy.


STUDI KASUS KONSELING BERKEBUTUHAN KHUSUS #10 | SLOW LEARNER

 SLOW LEARNER


1. Identitas

Nama        : Dita


·Kepribadian Pribadi Dita baik walaupun cenderung mudah putus asa dan kurang teliti dalam mengerjakan sesuatu. Dia selalu ingin semua keinginannya dituruti. Namun Dita tidak pernah  memilih-milih teman. ·    Tingkah laku Dita di rumah menunjukkan sikap yang cukup baik. Ia juga sangat patuh terhadap peraturan rumah. Ia termasuk anak yang disiplin baik dalam kebersihan rumah maupun kebersihan diri-sendiri. ·      Perkembangan jasmani Dita cukup baik. Dita memiliki fisik yang normal dan sama seperti teman-teman seusianya, bahkan termasuk anak yang cukup lincah dan enerjik.


Dita adalah anak pertama dari dua bersaudara. Ayahnya bekerja sebagai Pegawai Negeri. Ibunya sebagai pegawai hotel. Rumahnya tergolong sedang dan sederhana. Di dalam lingkungan rumah tersebut Dita tidak mengalami hambatan dalam berinteraksi dengan lingkungan tempat tinggalnya, sehingga hubungan bertetangganyapun cukup baik dan akrab.


Minat Dita terhadap kegiatan sekolah yang berhubungan dengan masalah pelajaran cukup baik walaupun secara intelektual Dita tertinggal dengan teman yang lain-lainnya. Hal ini dapat dilihat dari presensi Dita yang tidak pernah membolos dan selalu masuk sekolah.

Dita memiliki hobi mendengarkan musik. Kadang waktu luangnya sering dimanfaatkan atau digunakan untuk mendengarkan musik daripada mempelajari kembali pelajaran  yang sudah diterangkan di sekolah.


Rabu, 11 Mei 2022

STUDI KASUS KONSELING BERKEBUTUHAN KHUSUS #9 | ADHD DAN AUTISME

 STUDI KASUS ADHD

1. Profile

Nama : Angga Dani Ananda 

Tempat Tanggal Lahir : Sukoharjo, 14 Februari 2001

Agama : Islam 

Jumlah saudara : 3 

Alamat : Pundung Sari  

Nama ayah : Surono 

Nama ibu : Sumarni 


2. Kondisi Fisik

Subyek memiliki kesehatan yang baik dan tidak memiliki cacat tubuh serta tidak menderita suatu penyakit yang membahayakan, akan tetapi subyek hingga kini sering mengalami sakit radang tenggorokan. Gambaran fisik subyek yang lainnya adalah, subyek sering mengalami sakit di pergelangan tangan atau kaki. Hal tersebut subyek alami karena perilaku hiperaktif subyek seperti sering naik turun tangga di dalam rumah, sering naik pohon yang ada di lingkungan rumah serta gerakan tangan dan kaki subyek yang seolah-olah seperti gerak reflek, sehingga subyek sering mengalami cidera atau sakit fisik karena perilakunya tersebut.

3. Kehidupan Sosial

Aktifitas subyek baik di rumah dan di sekolah tidak jauh berbeda. Aktifitas yang dilakukan subyek menunjukkan perilaku hiperakti, baik di rumah maupun di sekolah. Perilaku hiperaktif yang dilakukan subyek ketika berada di rumah di antaranya menggerak-gerakan tangan dan kaki secara berlebihan seperti memukul-mukul benda yang ada di dekatnya, jika bermain tidak dapat bertahan lama dengan satu permainan, tidak dapat membereskan alat bermainnya setelah selesai bermaian selain itu perilaku subyek juga destruktif seperti mudah merusak mainannya. Selain hal tersebut jika di ajak bicara dengan orang tua atau pembantunya, subyek tidak dapat memperhatikan. Hal tersebut juga subyek alami ketika berada di sekolah. Aktifitas yang dilakukan subyek di sekolah menunjukkan bahwa subyek mengalami perilaku hiperaktif. perilaku hiperaktif pada saat di sekolah di antaranya sering menunjukkan sikap cuek dan tidak memperhatikan ketika diajak berbicara dengan orang lain dan cenderung semaunya sendiri, tidak dapat duduk tenang seperti banyak menggeliat di kursi pada waktu pelajaran, meninggalkan tempat duduk dan mondar-mandir dari bangku satu ke bangku teman satunya.

Hubungan subyek dengan teman, baik di rumah dan di sekolah juga tidak jauh berbeda. Dalam bergaul dengan lingkungan sekitar subyek selalu ingin menjadi pemimpin dalam permainan, ingin menang sendiri dan tidak mau kalah dengan teman-temannya yang lain.


4. Keluarga

Kedua orang tua subyek merupakan orang tua yang jarang berada di rumah. Ayah subyek bekerja sebagai polisi yang tidak tentu jadwal pekerjaannya, sedangkan ibu subyek bekerja sebagai PNS. Kedua orang tua subyek merupakan orang tua yang sibuk dengan pekerjaannya. Berangkat bekerja pagi dan pulang sore hari atau bahkan malam hari. Kedua kakak subyek juga tidak tinggal bersama dengan orang tua, karena bekerja dan kuliah di luar kota. Kondisi yang demikian membuat subyek jarang berkumpul dengan kedua orang tuanya serta membuat subyek hanya ditemani dengan pembantu di rumah. Hubungan subyek dengan pembantu lebih dekat disbanding dengan orang tuanya, karena segala sesuatu yang dibutuhkan subyek dibantu oleh pembantu, dari hal yang dibutuhkan subyek sebelum berangkat sekolah hingga subyek pulang sekolah, seperti peralatan sekolah hingga baju yang digunakan subyek sepulang sekolah.

Kedua orang tua subyek merupakan orang tua yang memberikan kasih sayang berlebihan, hal ini dapat terlihat dari sikap dan cara pendidikan orang tua yang diterapkan pada subyek serta segala sesuatu yang diinginkan subyek selalu dituruti oleh kedua orang tua. Selain hal tersebut kedua orang tua subyek juga menerapkan disiplin yang ketat pada subyek seperti sepulang sekolah harus segera pulang, subyek harus dapat menjadi yang pertama di kelas, belajar harus tepat 67 waktu dan tidak diperbolehkan main di luar rumah tanpa ditemani oleh pembantunya. Hal tersebut dilakukan orang tua subyek dengan alasan bahwa subyek merupakan anak laki-laki dalam keluarga dan menginginkan subyek kelak dapat menjadi pemimpin yang lebih dibanding orang tua. Selain hal tersebut, orang tua subyek terdapat kekhawatiran jika subyek salah bergaul dengan lingkungan sekitar, sehingga mereka memperlakukan subyek dengan demikian.



Kamis, 21 April 2022

STUDI KASUS KONSELING BERKEBUTUHAN KHUSUS #8 | TUNALARAS

  TUNALARAS

Identitas 

Nama        : Kosmos

Tempat, tgl lahir : Ambon, 9 April 1995 

Agama : kristen 

Status : Anak ke 3 dari 4 bersaudara 

Alamat : Asrama atau di Gilingan bersama neneknya 

Identitas orang tua ABK 

Nama Ayah/Ibu : Sarmudih/Antoniah 

Umur : 52 tahun 

Pendidikan : SMP 

Pekerjaan : serabutan/ penjual sayur 

Alamat : Ambon 

Status perkewinan : utuh 

Status sosial-ekonomi : kurang 

Kepedulian : terhadap anak dan pendidikannya cendrung tidak peduli & mengabaikan,disebabkan oleh faktor ekonomi yang lemah


2. Pendidikan

Lima tahun yang lalu kosmos dimasukan ke sebuah sekolah reguler SD Nusukan Barat 113 Solo. Ternyata disana ia tidak bisa mengikuti kegiatan belajar mengajar dengan baik, setelah diidentifikasi kosmos ini memiliki gangguan emosi dan sosial. Sehingga ia dikategorikan sebagai anak yang mengalami ketunalarasan. Sehingga ia di masukan ke SLB E Bhina Putera Surakarta Riwayat perkembangan Fisik dan kognitif baik, normal seperti umumnya pada anak-anak (tak diketahui adanya gangguan). Berkembang sesuai dengan usia Kepribadian diperoleh dari hasil meniru pribadi-pribadi yang ada di lingkungan tempat ia berasal (Ambon yang pada saat itu merupakan daerah  konflik,  banyak orang-orang yang bertemparamen tinggi, berwatak keras, pendendam, mudah di sulut emosinya, dll) Sosial, kurang bisa berinteraksi dengan baik karena adanya ketidaknyamanan dan ketidakamanan yang dirasakan anak. Diakibaatkan karena trauma akan konflik yang pernah di alami anak.


3. Kehidupan Sosial

Ketunalarasan yang dialami anak diperoleh karena adanya konflik di Ambon. Disana prilaku dan sikap masyarakat terhadap masyarakat lain banyak negatif, sehingga anak mencontoh prilaku dan sikap tersebut. Yang pada akhirnya, semua prilaku itu menjadi miliknya. Kehidupan sosial, pada awalnya anak seringkali berteman hanya dengan anak-anak yang berasal dari Ambon. Atau anak-anak yang menurutnya mempunyai kesamaan, baik latar belakang atau kesukaan yang sama.


4. Penyimpangan prilaku yang dihadapi

Gejala prilaku yang tampak menonjol adalah mencuri dan berbohong, apabila marah membawa batu untuk memecahkan kaca atau dilempar pada orang. Faktor yang mempengaruhi prilaku tersebut berupa faktor eksternal yang berasal dari lingkungan keluarga yang kurang perhatian dan kurang memberikan kasih sayang. Lingkungan masyarakat yang bersitegang karena konflik. Sedangkan factor internal berupa ketidaksiapan/ belum matangnya perkembangan anak. Sehingga kurang bisa memahami apa yang sedang terjadi, tidak tahu apa yang harus saya lakukan, terbawa keadaan, dll. Dugaan sebab utama adalah ke dua faktor diatas. Upaya treatment yang sudah dilakukan Oleh neneknya di masukan ke SLB E Solo. Di Sekolah, guru berusaha memaksimalkan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM), melakukan pembinaan di asrama  dengan cara memasukannya ke sana, dan melakukan pembinaan keagamaan. Treatment ini menghasilkan 75% keberhasilan.



PENDEKATAN YANG DIGUNAKAN PADA PERMASALAHAN YANG DIALAMI OLEH KONSELI

gangguan emosi pada tunalaras harus dilakukan terapi, salah satu terapi yang dikaji dalam hal ini adalah terapi tingkah laku yang bertujuan mengubah perilaku yang tidak dikehendaki dan diharapkan munculnya tingkah laku baru yang dikehendaki. Terapi tingkah laku merupakan penerapan berbagai teknik dan prosedur yang ada dalam bernagai teori belajar agar penyimpangan perilaku semakin berkurang. Terapi periku mempunyai ciri, dilakukan dengan berbagai metode atau teknik–teknik yaitu teknik desensitikasi sistematik, teknik inplosif, teknik latihan afersif, teknik hukuman, dan teknik pengkondisian peran, serta teknik tersebut harus dilakukan dengan tepat agar hasil terapi sesuai dengan apa yang diharapkan.


Konseling behavior adalah sebuah proses konseling (bantuan) yang diberikan oleh konselor kepada klien dengan menggunakan pendekatan-pendekatan tingkah laku (behavioral), dalam hal pemecahan masalah-masalah yang dihadapi serta dalam penentuan arah kehidupan yang ingin dicapai oleh diri klien. Konseling behavioral merupakan suatu proses membantu orang untuk belajar memecahkan masalah interpersonal, emosional, dan keputusan tertentu (Surya, 2003). 

Adapun alasan memilih pendekatan Behavioral yaitu: Untuk menciptakan perilaku yang baru, menghapus atau menghilangkan perilaku yang tidak sesuai, memperkuat dan mempertahankan perilaku yang diinginkan. 

Pendekatan konseling behavioral ini berusaha untuk mengubah perilaku yang tadinya tidak selaras dengan anak anak pada umum nya menjadi sesuai dengan anak pada umumnya. Tujuannya sendiri yaitu untuk menghilangkan perilaku negatif dan menggantinya dengan perilaku yang lebih baik lagi secara sosial.


LANGKAH LANGKAH PELAKSANAAN KONSELING 

1. Melakukan Assesmen pada klien baik dari segala sisi dan aspek. 

2. Menentukan tujuan yang seharusnya diketahui klien dari orang tua nya 

3. Mengimplementasikan teknik yang sesuai pada situasi dan kondisi Evaluasi dan mengakhiri konseling

Selasa, 12 April 2022

STUDI KASUS KONSELING BERKEBUTUHAN KHUSUS #7 | TUNALARAS

 TUNALARAS

Identitas 

Nama        : Kosmos

Tempat, tgl lahir : Ambon, 9 April 1995 

Agama : kristen 

Status : Anak ke 3 dari 4 bersaudara 

Alamat : Asrama atau di Gilingan bersama neneknya 

Identitas orang tua ABK 

Nama Ayah/Ibu : Sarmudih/Antoniah 

Umur : 52 tahun 

Pendidikan : SMP 

Pekerjaan : serabutan/ penjual sayur 

Alamat : Ambon 

Status perkewinan : utuh 

Status sosial-ekonomi : kurang 

Kepedulian : terhadap anak dan pendidikannya cendrung tidak peduli & mengabaikan,disebabkan oleh faktor ekonomi yang lemah


2. Pendidikan

Lima tahun yang lalu kosmos dimasukan ke sebuah sekolah reguler SD Nusukan Barat 113 Solo. Ternyata disana ia tidak bisa mengikuti kegiatan belajar mengajar dengan baik, setelah diidentifikasi kosmos ini memiliki gangguan emosi dan sosial. Sehingga ia dikategorikan sebagai anak yang mengalami ketunalarasan. Sehingga ia di masukan ke SLB E Bhina Putera Surakarta Riwayat perkembangan Fisik dan kognitif baik, normal seperti umumnya pada anak-anak (tak diketahui adanya gangguan). Berkembang sesuai dengan usia Kepribadian diperoleh dari hasil meniru pribadi-pribadi yang ada di lingkungan tempat ia berasal (Ambon yang pada saat itu merupakan daerah  konflik,  banyak orang-orang yang bertemparamen tinggi, berwatak keras, pendendam, mudah di sulut emosinya, dll) Sosial, kurang bisa berinteraksi dengan baik karena adanya ketidaknyamanan dan ketidakamanan yang dirasakan anak. Diakibaatkan karena trauma akan konflik yang pernah di alami anak.


3. Kehidupan Sosial

Ketunalarasan yang dialami anak diperoleh karena adanya konflik di Ambon. Disana prilaku dan sikap masyarakat terhadap masyarakat lain banyak negatif, sehingga anak mencontoh prilaku dan sikap tersebut. Yang pada akhirnya, semua prilaku itu menjadi miliknya. Kehidupan sosial, pada awalnya anak seringkali berteman hanya dengan anak-anak yang berasal dari Ambon. Atau anak-anak yang menurutnya mempunyai kesamaan, baik latar belakang atau kesukaan yang sama.


4. Penyimpangan prilaku yang dihadapi

Gejala prilaku yang tampak menonjol adalah mencuri dan berbohong, apabila marah membawa batu untuk memecahkan kaca atau dilempar pada orang. Faktor yang mempengaruhi prilaku tersebut berupa faktor eksternal yang berasal dari lingkungan keluarga yang kurang perhatian dan kurang memberikan kasih sayang. Lingkungan masyarakat yang bersitegang karena konflik. Sedangkan factor internal berupa ketidaksiapan/ belum matangnya perkembangan anak. Sehingga kurang bisa memahami apa yang sedang terjadi, tidak tahu apa yang harus saya lakukan, terbawa keadaan, dll. Dugaan sebab utama adalah ke dua faktor diatas. Upaya treatmennt yang sudah dilakukan Oleh neneknya di masukan ke SLB E Solo. Di Sekolah, guru berusaha memaksimalkan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM), melakukan pembinaan di asrama  dengan cara memasukannya ke sana, dan melakukan pembinaan keagamaan. Treatment ini menghasilkan 75% keberhasilan.



Kamis, 07 April 2022

STUDY KASUS KONSELING BERKEBUTUHAN KHUSUS #5 | TUNADAKSA

1. Identitas

Nama     : Bayu Novembri Adadikan

Tanggal Lahir       : 18 November 1998

Bayu adalah anak dari pasangan John Adadika dan Triverna Martini, Dia anak ke-3 dari 4 (empat) bersaudara. Pekerjaan ayahnya sebagai LSM dan ibunya sebagai ibu rumah tangga. 

2. Kehidupan Pribadi

Bayu tinggal bersama orang tuanya di banjaran RT 01/RW 12. Bayu lahir tidak normal atau dikenal dengan lahir prematur sehingga mengalami kelumpuhan pada kakinya. Pertumbuhan dan perkembangan Bayu juga tidak berjalan dengan baik jika dilihat dari bentuk fisik Bayu. Kelumpuhan Bayu ini membuat Bayu tidak bisa berjalan dengan normal seperti kakak dan adiknya. Bayu berjalan sengan merangkak menggunakan kedua tangan dan kedua kakinya yang kurang sempurna. Sedikit demi sedikit akhirnya Bayu bisa berjalan tetapi berbeda dengan anak yang lainnya. Bayu berjalan seperti kelainan kaki ”Leter X”, itupun harus dibantu oleh orang lain dan biasa juga merambat lewat tembok atau pagar.

3. Kehidupan Sosial

Dimata teman-teman Bayu adalah seorang anak yang baik. Bayu sering membantu temanya-temannya bila ada yang mengalami kesulitan. Dalam belajar Bayu tidak pernah tinggal kelas. Bayu memiliki semangat belajar yang tinggi, disaat Bayu sakit dia tetap masuk sekolah dan senang berada di sekolah itu. Selain bisa belajar juga bisa bermain-main dengan teman-teman satu sekolah.

4. Prestasi

Walaupun berkelainan Bayu tetap memiliki cita-cita. Dia senang menekuni bidang kesenian khususnya bernyanyi dan bermain gamelan. Tak menyangka disisi kelemahannya ada banyak potensi yang dia miliki yang bisa dia kembangkan menjadi sesuatu yang luar biasa. Selain itu, ia juga ingin menjadi seorang dokter menunjukkan bahwa ia memiliki cita-cita yang tinggi dalam hidupnya. Hidup adalah proses, jika bisa melewati langkah demi langkah dan mampu mengatasi pasti berhasil dan mencapai tujuan yaitu sukses.

5. Keluarga

Didalam lingkungan keluarga, Bayu seperti anak pingit oleh karena orang tuanya, dia tidak boleh kemana-mana hanya didalam rumah, teras dan di sekolah. Dalam menghabiskan waktu dirumah Bayu hanya menonton TV dan bermain dengan saudaranya. Orang tuanya kawatir kalau terjadi sesuatu dengan Bayu karena Bayu berkelainan dan berbeda dengan anak-anak yang normal.

Rabu, 23 Maret 2022

STUDY KASUS KONSELING BERKEBUTUHAN KHUSUS #4 | TUNAGRAHITA



1. Identitas

    Nama        : Christian Husein Sitompul

    Ayah        : Ruhut Sitompul


2. Kehidupan Pribadi

Christian merupakan anak yang istimewa, ia merupakan penyandang tunagrahita. Dengan keistimewaannya itu, Christian mampu menunjukkan bakatnya yang luar biasa ke khalayak umum. Christian Husein Sitompul adalah putra dari Ruhut Sitompul dan Anna Rudhiantiana Legawati. Namun, bukannya disayang, Ruhut bahkan tak mengakui Christian sebagai anak.

Beruntung Christian mempunyai seorang ibu berhati malaikat. Anna yang membesarkan Christian dengan penuh cinta akhirnya dibuat menangis bangga oleh anaknya tersebut. Christian berhasil memenangkan medali emas pada National Games Special Olympics Singapore. Christian ingin membuktikan bahwa dengan keterbatasannya itu, ia masih mampu membuat orang tua bangga. 

3. Kehidupan Sosial

Christian merupakan anak yang cukup ceria, walaupun hidup tanpa sang ayah yang mendampingi, ia tumbuh dengan kasih sayang penuh dari ibunya. 


4. Keluarga 

Christian hidup dengan ibunya setelah perceraian yang terjadi pada orang tuanya dan ayah yang tidak mengakuinya sebagai anak, Christian Husein Sitompul adalah putra dari Ruhut Sitompul dan Anna Rudhiantiana Legawati.. 

    

     

Rabu, 16 Maret 2022

STUDY KASUS KONSELING BERKEBUTUHAN KHUSUS #4 | TUNARUNGU

 Anna Cannings Penyandang Tunanetra




PROFIL

1. Pribadi

Anna Cannings adalah aktris tunanetra, motivator sekaligus seorang model dari Sussex, Inggris selama lebih dari 20 tahun. Ia terkenal setelah penampilannya sebagai Della Winn dalam drama kriminal BBC Strike. 

Anna terlahir dengan kondisi mata langka yang disebut Bilateral Microphthalmia, bilateral yang berarti kedua mata dan Microphthalmia yang berarti mata kecil yang tidak normal. Ia adalah penyandang tunanetra total pertama di Sussex yang masuk ke sekolah umum dan masuk industri hiburan.

Dia adalah anak buta total pertama di Sussex yang bersekolah di sekolah umum dan diperkenalkan ke industri media setelah membintangi film dokumenter pendek RNIB pada usia sembilan tahun. Selain penampilannya di Strike, Anna memiliki peran tamu dalam drama komedi ITV William and Mary dan drama medis BBC Bodies. Dia juga tampil dalam drama hari Tahun Baru 2015 BBC, Esio Trot.

2. Sosial

Anna bersekolah di sekolah dasar Kristen dan diterima sepenuhnya di sana. Tetapi integrasi jauh lebih sulit di masa remaja saya ketika Anna berjuang dengan beberapa mata pelajaran, seperti PE dan matematika. Anna juga merasa lebih sulit untuk berteman.

3. Karir

Ia mendapat kesempatan membintangi film awalnya dari koresponden penyandang disabilitas BBC, Peter White, bukan melalui RNIB (Royal National Institute of Blind People, merupakan badan amal Inggris Raya yang menawarkan informasi, dukungan, dan nasihat kepada hampir dua juta orang di Inggris yang mengalami gangguan penglihatan). 

Saat itu ibunya mengikuti program Peter's Radio 4 In Touch setelah Anna lahir dan membahas tentang sikap orang terhadap kebutaan. Saat itu Peter menghubungi ibunya saat badan amal tersebut mencari anak tunanetra di tahap akhir pendidikan dasar terintegrasi. Ketika itu integrasi belum umum, sehingga ia mengambil kesempatan tersebut untuk membahas dari pendekatan integrasi. Sejak itu ia banyak terpapar media. 

Anna mengikuti banyak kursus singkat melalui Actors Center yang ia mendapatkan rekomendasi dari sutradara TV Matthew Evans, yang bekerja dengannya pada tahap paling awal dalam karir akting. Ia menjalani lokakarya casting, pelatihan aksen dan dialek, serta pelajaran menyanyi.


Pendekatan yang digunakan pada Permasalahan yang dialami oleh Konseli

Sebagaian besar penyandang tunanetra, baik itu low vision dan buta total diperoleh informasi bahwa mereka merasa minder dengan keadaan fisiknya, merasa pesimis terhadap kemampuannya, merasa canggung menghadapi aturan, sulit berbaur di lingkungan lebih luas, emosi yang labil serta merasa kesulitan dalam memahami pembelajaran. Salah satu contoh dalam mengikuti pembelajaran yaitu penyandang tunanetra yang memiliki nilai akademik rendah menganggap dirinya tidak mampu belajar dengan optimal dan mereka merasa gagal membangun hubungan sosial yang baik dikarenakan keadaan fisiknya.

Anak Tuna Netra cenderung memiliki masalah dalam pendidikan, sosial, emosi, kesehatan, dalam permasalahan ini kita perlu antisipasi dengan cara konselor memberikan pelayanan pendidikan, arahan, bimbingan, latihan dengan memberikan kesempatan bagi anak tersebut, sehingga permasalahan yang mungkin akan timbul nantinya dapat di atasi sendiri dengan sedini mungkin.

Proses pendekatan layanan yang sesuai dengan konseling ini yaitu layanan orientasi yang bertujuan untuk dapat memahami lingkungan sekolah yang ada di sekitar dia yang baru dimasuki. Hal ini dapat mempermudah dan mempelancar anak itu dalam adanya lingkungan yang baru, kegiatan orientasi ini  memungkinkan bisa anak tuna netra mengetahui dengan posisi tujuan lalu obyek yang ada di sekitarnnya lalu dapat memungkinkan serta mengetahui cara bagaimana anak tersebut untuk mencapai tujuan obyek itu. 

Melakukan Asesmen 

Proses asesmen secara garis besar dapat meliputi kegiatan penentuan area atau hal-hal yang akan diases sesuai dengan kebutuhan atau masalahnya, mengumpulkan data yang relevan berdasarkan latar belakangnya, melakukan asesmen, menyatukan data dan menginterpretasi, mementukan strategi untuk intervensi, dan mengevaluasi kemajuan.

Dalam peran ini beberapa kegiatan yang harus dilakukan adalah: 

  • Melakukan asesmen fungsi penglihatan 
  • Mendapatkan dan menginterprestasikan laporan medis 
  • Memberikan masukan untuk IEP 
  • Memberikan rekomendasi untuk pelayanan yang tepat 
  • Memberikan rekomendasi hal-hal yang dievaluasi 
  • Membantu melakukan evaluasi kepada profesi lain 
  • Membantu memutuskan penempatan siswa Berpartisipasi dalam proses asesmen



Sumber 

Oktavia, E., Zikra, Z., & Nurfarhanah, N. (2016). Konsep Diri Penyandang Tunanetra dan Implikasinya terhadap Layanan Bimbingan dan Konseling. Konselor, 5(4), 229. https://doi.org/10.24036/02016546559-0-00

https://disabilityhorizons.com/2020/12/anna-cannings-blind-actress-who-stars-in-bbc-crime-drama-strike/#:~:text=Anna%20Cannings%20is%20a%20blind,spans%20more%20than%2020%20years. diakses pada 16 Maret 2022

https://www.liputan6.com/disabilitas/read/4429822/aktris-tunanetra-beranilah-mengungkapkan-pendapat-jika-itu-membuatmu-tidak-nyaman diakses pada 16 Maret 2022


Rabu, 09 Maret 2022

STUDY KASUS KONSELING BERKEBUTUHAN KHUSUS #4 | Tunarungu

 STUDY KASUS (Kepribadian Tunarungu)


Profil Keluarga Tunarungu di Bungus Teluk Kabung

Berdasarkan studi pendahuluan yang ditulis dalam jurnal, penulis menemukan sebuah keluarga yang semua anggota keluarganya mengalami hambatan pendengaran serta tinggal di tempat terpencil, tanpa listrik, memasakpun masih menggunakan kayu bakar dan jarak rumahnya jauh dari rumah warga lainnya. Mereka hidup dirumah kayu sederhana yang jauh dari keramaian, untuk menuju rumah warga terdekatpun mereka harus melewati pematang sawah dan sungai kecil yang jaraknya sekitar 10 meter.

Keluarga ini memiliki tujuh anggota keluarga, diantaranya orang tua yang lengkap (ayah dan ibu tunarungu) dan lima orang anak yang semuanya mengalami hambatan pendengaran. Ayahnya bekerja sebagai penjemur padi di Heller orang dan ibunya bekerja sebagai buruh tani kadang membantu suaminya bekerja, sedangkan empat orang anak yang lainnya sedang menempuh dunia pendidikan diantaranya satu orang anak bersekolah di SD Reguler tanpa GPK dan tiga orang bersekolah di jenjang SMPLB di Bungus teluk kabung, serta 1 orang anak lagi masih berusia 4 tahun.

Profil Ayah

Nama            : LM

Umur            : 51 Tahun

Pekerjaan      : Buruh Tani atau tukang jemur padi di heler milik orang lain,

Lm bekerja sangat giat dan rajin, hal ini dilihat dari catatan wawancara 6 dengan pemilik heler tempat Lm bekerja. Lm adalah anak ke 2 dari 8 bersaudara, dari 8 saudara Lm ada satu lagi saudara yang juga mengalami hambatan pendengaran yaitu adik bungsunya. Lm adalah pribadi yang murah senyum dan rajin beribadah, walaupun disaat sedang sibuk bekerja iya tetap sholat tepat waktu.

Profil Ibu

Nama                    : MR

Umur                   : 45 Tahun

Pekerjaan       : Ibu Rumah Tangga kadang ia membantu suaminya bekerja diheler, kadang pergi mencari kayu kehutan dan ikut bekerja dengan orang lain bercocok tanam di sawah orang lain. 

Ibu Mr merupakan pribadi yang murah senyum dan sangat baik, hal ini dilihat saat CL 5, saat peneliti mulai berinteraksi dengan keluarga X, Ibu Mr merupakan seorang ibu yang hebat bagi anak-anaknya, karena walaupun mengalami hambatan pendengaran tetapi ia tetap bersikeras untuk menyekolahkan anaknya ditempat yang layak serta mampu mendidik anaknya dengan sangat baik dan berperilaku baik seperti mereka. 

Profil Anak ke-1

Nama        : EM

Umur        : 16 Tahun

Saat ini sedang belajar di salah satu SLB yang ada di bungus teluk kabung, EM adalah pribadi yang sangat berbakat dalam segi akademik maupun keterampilan, gurunya bilang, bahwa EM sangat berbakat dalam melukis dan menjahit, namun pada kemampuan akademiknya pun tidak ada masalah, ia adalah anak yang sangat berbakat dalam bidang apapun, sekarang Em sedang mengikuti pelatihan di salah satu tempat pelatihan bagi Abk untuk menunjang mengasah kemampuannya, Em mengikuti pelatihan menjahit terkhususnya pada bidang border, hasil bordirannya sangat bagus dan rapi, Em adalah pribadi yang sopan dan santun kepada semua orang, ia juga kakak yang sangat baik dan peduli dengan adik-adiknya. Saat adik-adiknya bersekolah di SD Reguler, EM lah yang mengajarkan adik-adiknya membaca dan Bahasa isyarat jari yang ia dapat dari SLB. EM juga sering membuat kerajinan tangan sendiri yang ia pasarkan kepada teman-temannya

Profil Anak ke-2

Nama        : TM

Umur        : 14 Tahun

TM duduk di bangku kelas dua SMPLB di SLB Samudera Biru, TM adalah pribadi yang baik dan murah senyum seperti keluarganya yang lain, TM juga berbakat seperti kakaknya dalam bidang keterampilan seperti menjahit dan melukis. TM adalah anak yang penurut dan sopan dengan guru.

Profil Anak ke-3

Nama        : SN

Umur        : 12 Tahun

SN sekarang sedang duduk di bangku kelas 1 SMPLB. Sama dengan kakaknya SN adalah pribadi yang baik dan pekerja keras. Setelah pulang sekolah ia membantu ayahnya bekerja di heler dan saat libur pun ia habiskan untuk membantu orang taunya. SN adalah anak laki-laki tertua di keluarga ini.

Profil Anak ke-4

Nama        : FT

Umur         : 8 Tahun

FT sekarang duduk di bangku kelas II SD. FT bersekolah di SD regular yang dekat dengan rumahnya. FT adalah anak yang pemalu dan susah bergaul dengan teman-temannya. Dikarenakan usianya yang masih belia iya menjadi pribadi yang tertutup dibandingkan dengan kakak-kakaknya yang lain. FT setelah pulang sekolah lebih banyak menghabiskan waktunya dirumah dibandingkan bermain dengan kawan-kawan seusianya. Disekolahpun ia duduk sendiri dan berada di bangku paling belakang. FT tidak punya teman dekat dan merasa tersisihkan dari teman-temannya. FT adalah anak yang baik dan sopan sama dengan kakak-kakanya namun karna pribadinya yang tertutup FT menjadi pribadi yang susah bergaul dilingkungannya

Profil Anak ke-5

Nama        : MT

Umur        : 4 Tahun

MT belum bersekolah dan masih tergantung kepada ibunya. MT juga mengalami hambatan pendengaran dan bicara. MT adalah pribadi yang murah senyum dan mudah dekat dengan orang lain. Karena pribadinya yang lucu membuat orangorang menjadi senang untuk dekat dengannya. Setiap bertemu orang iya selalu tersenyum dan penurut.


Keluarga X ini sangat ramah dengan semua orang, dia tidak pernah bermusuhan dengan tetangga maupun dengan siapapun. Cara tunarungu berinteraksi dengan lingkungan adalah dengan menggunakan isyarat dan oralnya, serta orang-orang disekitar pun sudah paham dengan Bahasa yang dipakai keluarga X. keluarga ini tidak pernah membeda-bedakan siapapun, mereka hidup dengan damai tanpa ada yang membencinya maupun membulynya. Mereka juga tidak pernah bertindak kasar dengan orang lain dan selalu tersenyum ketika bertemu orang lain.

Faktor yang menyebabkan ketunarunguan pada keluarga ini adalah karena faktor keturunan, hal ini dibuktikan karena salah satu keluarga dari ayahnya juga mengalami ketunarunguan. lalu didukung oleh faktor lingkungan, karena tinggal ditempat terpencil mereka jarang berkomunikasi dengan orang lain sehingga sering berkomunikasi dengan orang tuanya saja yang keduanya mengalami hambatan pendengaran. Kelima, persepsi lingkungan terhadap keluarga ini sangat baik, mereka adalah keluarga yang ramah dan sopan kepada orang lain. walaupun mengalami keterbatasan tetapi mereka tidak pernah merepotkan orang lain.  



Sumber 

Syaputri, R. Y., & Indramurni. (2021). Profil Keluarga Tunarungu di Bungus Teluk Kabung. Indonesian Journal of Islamic Early Childhood Education, 5(1), 10–20. https://doi.org/10.51529/ijiece.v5i1.172




Rabu, 02 Maret 2022

RESUME KONSELING BERKEBUTUHAN KHUSUS #3 | Tunanetra

 Tunanetra


1. Pengertian dan Karakteristik Tunanetra

Istilah tunanetra berasal dari kata tuna yang berarti rusak dan netra yang berarti mata. Jadi tunanetra yaitu individu yang mengalami kerusakan atau hambatan pada organ mata. Selain itu tunanetra juga diartikan sebagai seseorang yang sudah tidak mampu memfungsikan indra penglihatannya untuk keperluan pendidikan dan pengajaran walaupun telah dikoreksi dengan lensa (Cahya, 2013).

Menurut para medis, tunanetra merupakan orang yang memiliki ketajaman sentral 20/200 feet atau ketajaman penglihatannya hanya pada jarak 6 meter atau kurang, walaupun dengan menggunakan kacamata, atau daerah penglihatannya sempit sehingga jarak sudutnya tidak lebih dari 20 derajat. Sedangkan orang dengan penglihatan normal akan mampu melihat dengan jelas sampai pada jarak 60 meter atau 200 kaki (Hidayat & Suwandi, 2013).

Menurut Rudiyati (2002), anak penyandang tuna yang kehilangan informasi secara visual memiliki karakteristik sebagai berikut:

a. Rasa curiga terhadap orang lain

b. Perasaan tersinggung 

c. Verbalisme

d. Perasaan rendah diri

e. Adatan

f. Suka berfantasi

g. Berpikir kritis

h. Pemberani


2. Penyebab dan cara penanganan tunanetra

a. Pranatal (Sebelum kelahiran)

Tahap prenatal yaitu sebelum anak lahir pada saat masa anak di dalam kandungan dan diketahui sudah mengalami ketunaan. Faktor prenatal berdasarkan periodisasinya dibedakan menjadi periode embrio, periode janin muda, dan periode janin aktini.

b. Neonatal (Saat kelahiran)

Periode neonatal yaitu periode dimana anak dilahirkan. Beberapa faktornya yaitu anak lahir sebelum waktunya (prematurity), lahir dengan bantuan alat (tang verlossing), posisi bayi tidak normal, kelahiran ganda atau kesehatan bayi.

c. Postnatal (Setelah kelahiran)

Kelainan pada saat posnatal yaitu kelainan yang terjadi setelah anak lahir atau saat anak dimasa perkembangan. Pada periode ini ketunaan bisa terjadi akibat kecelakaan, panas badan yang terlalu tinggi, kekurangan vitamin, bakteri


Cara menangani tunanetra

- Ajak si kecil melakukan kegiatan dasar, tunjukkan cara berjalan dengan meraba berbagai benda yang ada di sekitarnya, sehingga anak dapat waspada ketika berjalan. 

- Manfaatkan indera-indera lainnya untuk belajar aktivitas sehari-hari. Misalnya, indera peraba untuk mengenali barang-barang yang ada di rumah, indera pendengaran untuk mengenali suara orang atau bunyi-bunyian lainnya, indera pengecapan untuk mengenali berbagai macam makanan, dan indera penciuman untuk mengenali berbagai bau-bau yang ada di sekitarnya. 

- Ajari anak untuk berkomunikasi dengan orang-orang di sekitarnya, dengan mengajak anak untuk berbicara mulai dari mengucapkan kata-kata yang sederhana seperti “terima kasih”, “selamat pagi/siang/sore”, dan sebagainya. Ajak anak juga untuk mengungkapkan perasaannya, baik rasa senang, sedih, marah, dan sebagainya. 

- Ajari si kecil untuk mengenal huruf Braille. Dengan demikian, ia dapat belajar membaca dan menulis dengan lebih mudah.


3. Peran lingkungan terhadap tunanetra anak

Hambatan dalam memberikan pelayan anak berkebutuhan khusus (ABK), khususnya anak tunanetra yang cenderung memiliki berbagai masalah baik yang berhubungan dengan pendidikan, sosial, emosi. Adanya dukungan sosial dari lingkungan sekitar seperti teman sebaya dan keluarga sangat penting. Dukungan sosial tersebut dapat menimbulkan kepercayaan diri yang tinggi terhadap inividu. Terdapat dampak rendahnya dukungan sosial yang mengacu secara negatif.


4. Studi kasus (Kepribadian Tunanetra)

Muharani, Qorizky (2009) KEMANDIRIAN PADA PENYANDANG LOW VISION Studi Kasus Berdasar Teori Kepribadian Adler. Undergraduate thesis, Universitas Diponegoro.


Low vision adalah kondisi penglihatan lemah yang tidak dapat ditolong dengan penggunaan kacamata. Jarak penglihatan maksimum untuk orang dengan low vision adalah 6 meter dalam visi 20 derajat yang luas. Orang dengan penglihatan rendah biasanya memiliki kesulitan dalam penyesuaian diri, sering merasa tidak berdaya, tidak mandiri, dan kebanyakan bergantung atas bantuan orang lain. Tetapi ada juga orang-orang dengan penglihatan rendah yang bisa beradaptasi dan melakukan banyak aktivitas sendiri. Itulah mengapa menarik untuk dilakukan pengamatan pada proses otonomi pada masyarakat low vision. Otonomi bisa menjadi digambarkan sebagai beberapa jenis perilaku di mana seseorang memiliki inisiatif, memiliki kemampuan memecahkan masalah dan melakukan banyak aktivitas tanpa bantuan orang lain orang, untuk kepentingan diri sendiri atau bahkan kepentingan sosial.

Pengamatan ini menggunakan metode kualitatif, dengan pendekatan pada suatu kasus studi untuk memiliki pemahaman yang lebih baik tentang kasus ini. Studi kasus memberikan informasi tentang harapan, kekhawatiran, pengalaman traumatis, hubungan keluarga, dan kesehatan mental, untuk memahami pikiran atau perilaku individu. Studi kasus adalah tengah lansia low vision, sedangkan informannya adalah orang yang berhubungan erat dengan subjek. Metode yang digunakan untuk mendapatkan data adalah dengan melakukan wawancara dengan subjek dan informan, dan dengan melakukan observasi terhadap subjek itu sendiri.

Pengamatan ini menemukan bahwa kedua subjek memiliki inferioritas yang membuat subjek itu sendiri berjuang untuk otonomi mereka dalam hidup. Inferioritas ini ditunjukkan dalam gaya hidup. Pada subjek pertama, gaya hidupnya menekankan pada minat sosial, jadi dia memiliki minat diri yang rendah. Pada subjek kedua, gaya hidupnya sebagian besar menekankan pada memperjuangkan kesejahteraan ekonomi keluarganya. Otonomi kedua subjek adalah ditunjukkan dalam otonomi ekonomi dan otonomi perilaku. Peran keluarga adalah sangat penting, terutama dari orang tua. Keluarga tidak boleh membeda-bedakan perilaku kedua mata pelajaran dan tidak memberikan terlalu banyak tanggung jawab untuk meningkatkan motivasi dan kepercayaan diri pada kedua mata pelajaran.




Referensi 

Muharani, Qorizky (2009) KEMANDIRIAN PADA PENYANDANG LOW VISION Studi Kasus Berdasar Teori Kepribadian Adler. Undergraduate thesis, Universitas Diponegoro.

Wulandari, Novia (2018) MANFAAT DUKUNGAN SOSIAL BAGI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS TUNANETRA DI YAYASAN SAYAP IBU.

KHOLIDAH, FAJARUL (2017) Upaya Pengembangan Kemandirian dalam Ibadah melalui Pembelajaran Pendidikan Agama Islam pada Siswa Tunanetra (Studi Kasus di Kelas V SLB ‘Aisyiyah Ponorogo). Undergraduate (S1) thesis, IAIN Kediri.

https://www.kajianpustaka.com/2019/11/jenis-karakteristik-penyebab-dan-metode-belajar-anak-tunanetra.html#:~:text=Menurut%20para%20medis%2C%20tunanetra%20merupakan,tidak%20lebih%20dari%2020%20derajat. diakses pada 3 Maret 2022 pukul 12.21


Sabtu, 12 Februari 2022

RESUME KONSELING BERKEBUTUHAN KHUSUS #1 | Konsep Dasar Konseling Berkebutuhan Khusus

 Konsep Dasar Konseling Berkebutuhan Khusus


1. Pengertian Konseling Berkebutuhan Khusus

Konseling berkebutuhan khusus adalah penyediaan layanan khusus kepada individu atau kelompok yang memerlukan perlakuan dan perhatian khusus dengan menerapkan teknik yang lebih memilih untuk melakukan pendekatan dengan porsi yang berbeda dari layanan konseli kepada anak-anak biasa atau secara umum. Hal ini dapat diungkapkan karena menurut beberapa ahli, dikatakan, Jones (1970:96) menyebutkan bahwa konseling sebagai hubungan profesional antara konselor terlatih dan klien. Kemudian, terungkap lagi bahwa hubungan ini biasanya adalah individu atau individu; meskipun terkadang melibatkan lebih dari dua orang dan dirancang untuk membantu klien memahami dan memperjelas pandangan tentang ruang lingkup hidupnya; sehingga mereka dapat membuat pilihan yang bermakna dan memadai bagi diri mereka sendiri.

2. Faktor penyebab anak berkebutuhan khusus.

Faktor-faktor penyebab anak menjadi berkebutuhan khusus, dilihat dari waktu kejadiannya dapat dibedakan menjadi tiga klasifikasi, yaitu kejadian sebelum kelahiran, saat kelahiran dan penyebab yang terjadi lahir.

  • Peristiwa Pre natal (sebelum kelahiran) Penyebab yang terjadi sebelum proses persalinan, dalam hal ini artinya ketika anak dalam kandungan, terkadang ibu tidak menyadarinya hamil. Faktor-faktor ini meliputi; Gangguan Genetika : Kelainan Kromosom, Transformasi. Infeksi kehamilan, keracunan saat hamil.
  • Natal (terjadi saat kelahiran) Setiap ibu berharap mengalami proses melahirkan yang normal dan lancar. Berikut akan dibahas beberapa proses kelahiran yang dapat menyebabkan anak berkebutuhan khusus, antara lain : Proses kelahiran lama (Anoxia), prematur, kekurangan oksigen.
  • Post Natal, Berbagai peristiwa yang dialami anak dalam kehidupan seringkali dapat mengakibatkan seseorang seseorang kehilangan fungsi organ tubuh atau fungsi otot, dan saraf. bahkan kalah organ itu sendiri.
3. Hak dan Kewajiban Anak Berkebutuhan Khusus.
  • Anak berkebutuhan khusus memiliki hak yang dapat menjamin kelangsungan pendidikannya. Oleh karena itu, ABK berhak melanjutkan pendidikan jika memiliki kemampuan yang dibutuhkan. Semua ini sesuai dengan Hukum yang telah ditetapkan di negara ini.
  • Bagi anak berkebutuhan khusus, kewajiban yang mereka dapatkan adalah kewajiban mengikuti pendidikan dasar ketika mencapai usia tujuh tahun. Dan jika dia melakukan suatu perbuatan yang salah, maka jika dia memberikan hukuman harus disesuaikan dengan keadaan.

Sumber : 
Fahmi, L. (2013). Konseling Berkebutuhan Khusus. Digilib.Uinsby.Ac.Id, 35–37.
Bahan, S., Pembelajaran, M., Calon, B., & Paud, P. (2010). ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS Kelompok Bermain. 1–51.