Get me outta here!

Rabu, 02 Maret 2022

RESUME KONSELING BERKEBUTUHAN KHUSUS #3 | Tunanetra

 Tunanetra


1. Pengertian dan Karakteristik Tunanetra

Istilah tunanetra berasal dari kata tuna yang berarti rusak dan netra yang berarti mata. Jadi tunanetra yaitu individu yang mengalami kerusakan atau hambatan pada organ mata. Selain itu tunanetra juga diartikan sebagai seseorang yang sudah tidak mampu memfungsikan indra penglihatannya untuk keperluan pendidikan dan pengajaran walaupun telah dikoreksi dengan lensa (Cahya, 2013).

Menurut para medis, tunanetra merupakan orang yang memiliki ketajaman sentral 20/200 feet atau ketajaman penglihatannya hanya pada jarak 6 meter atau kurang, walaupun dengan menggunakan kacamata, atau daerah penglihatannya sempit sehingga jarak sudutnya tidak lebih dari 20 derajat. Sedangkan orang dengan penglihatan normal akan mampu melihat dengan jelas sampai pada jarak 60 meter atau 200 kaki (Hidayat & Suwandi, 2013).

Menurut Rudiyati (2002), anak penyandang tuna yang kehilangan informasi secara visual memiliki karakteristik sebagai berikut:

a. Rasa curiga terhadap orang lain

b. Perasaan tersinggung 

c. Verbalisme

d. Perasaan rendah diri

e. Adatan

f. Suka berfantasi

g. Berpikir kritis

h. Pemberani


2. Penyebab dan cara penanganan tunanetra

a. Pranatal (Sebelum kelahiran)

Tahap prenatal yaitu sebelum anak lahir pada saat masa anak di dalam kandungan dan diketahui sudah mengalami ketunaan. Faktor prenatal berdasarkan periodisasinya dibedakan menjadi periode embrio, periode janin muda, dan periode janin aktini.

b. Neonatal (Saat kelahiran)

Periode neonatal yaitu periode dimana anak dilahirkan. Beberapa faktornya yaitu anak lahir sebelum waktunya (prematurity), lahir dengan bantuan alat (tang verlossing), posisi bayi tidak normal, kelahiran ganda atau kesehatan bayi.

c. Postnatal (Setelah kelahiran)

Kelainan pada saat posnatal yaitu kelainan yang terjadi setelah anak lahir atau saat anak dimasa perkembangan. Pada periode ini ketunaan bisa terjadi akibat kecelakaan, panas badan yang terlalu tinggi, kekurangan vitamin, bakteri


Cara menangani tunanetra

- Ajak si kecil melakukan kegiatan dasar, tunjukkan cara berjalan dengan meraba berbagai benda yang ada di sekitarnya, sehingga anak dapat waspada ketika berjalan. 

- Manfaatkan indera-indera lainnya untuk belajar aktivitas sehari-hari. Misalnya, indera peraba untuk mengenali barang-barang yang ada di rumah, indera pendengaran untuk mengenali suara orang atau bunyi-bunyian lainnya, indera pengecapan untuk mengenali berbagai macam makanan, dan indera penciuman untuk mengenali berbagai bau-bau yang ada di sekitarnya. 

- Ajari anak untuk berkomunikasi dengan orang-orang di sekitarnya, dengan mengajak anak untuk berbicara mulai dari mengucapkan kata-kata yang sederhana seperti “terima kasih”, “selamat pagi/siang/sore”, dan sebagainya. Ajak anak juga untuk mengungkapkan perasaannya, baik rasa senang, sedih, marah, dan sebagainya. 

- Ajari si kecil untuk mengenal huruf Braille. Dengan demikian, ia dapat belajar membaca dan menulis dengan lebih mudah.


3. Peran lingkungan terhadap tunanetra anak

Hambatan dalam memberikan pelayan anak berkebutuhan khusus (ABK), khususnya anak tunanetra yang cenderung memiliki berbagai masalah baik yang berhubungan dengan pendidikan, sosial, emosi. Adanya dukungan sosial dari lingkungan sekitar seperti teman sebaya dan keluarga sangat penting. Dukungan sosial tersebut dapat menimbulkan kepercayaan diri yang tinggi terhadap inividu. Terdapat dampak rendahnya dukungan sosial yang mengacu secara negatif.


4. Studi kasus (Kepribadian Tunanetra)

Muharani, Qorizky (2009) KEMANDIRIAN PADA PENYANDANG LOW VISION Studi Kasus Berdasar Teori Kepribadian Adler. Undergraduate thesis, Universitas Diponegoro.


Low vision adalah kondisi penglihatan lemah yang tidak dapat ditolong dengan penggunaan kacamata. Jarak penglihatan maksimum untuk orang dengan low vision adalah 6 meter dalam visi 20 derajat yang luas. Orang dengan penglihatan rendah biasanya memiliki kesulitan dalam penyesuaian diri, sering merasa tidak berdaya, tidak mandiri, dan kebanyakan bergantung atas bantuan orang lain. Tetapi ada juga orang-orang dengan penglihatan rendah yang bisa beradaptasi dan melakukan banyak aktivitas sendiri. Itulah mengapa menarik untuk dilakukan pengamatan pada proses otonomi pada masyarakat low vision. Otonomi bisa menjadi digambarkan sebagai beberapa jenis perilaku di mana seseorang memiliki inisiatif, memiliki kemampuan memecahkan masalah dan melakukan banyak aktivitas tanpa bantuan orang lain orang, untuk kepentingan diri sendiri atau bahkan kepentingan sosial.

Pengamatan ini menggunakan metode kualitatif, dengan pendekatan pada suatu kasus studi untuk memiliki pemahaman yang lebih baik tentang kasus ini. Studi kasus memberikan informasi tentang harapan, kekhawatiran, pengalaman traumatis, hubungan keluarga, dan kesehatan mental, untuk memahami pikiran atau perilaku individu. Studi kasus adalah tengah lansia low vision, sedangkan informannya adalah orang yang berhubungan erat dengan subjek. Metode yang digunakan untuk mendapatkan data adalah dengan melakukan wawancara dengan subjek dan informan, dan dengan melakukan observasi terhadap subjek itu sendiri.

Pengamatan ini menemukan bahwa kedua subjek memiliki inferioritas yang membuat subjek itu sendiri berjuang untuk otonomi mereka dalam hidup. Inferioritas ini ditunjukkan dalam gaya hidup. Pada subjek pertama, gaya hidupnya menekankan pada minat sosial, jadi dia memiliki minat diri yang rendah. Pada subjek kedua, gaya hidupnya sebagian besar menekankan pada memperjuangkan kesejahteraan ekonomi keluarganya. Otonomi kedua subjek adalah ditunjukkan dalam otonomi ekonomi dan otonomi perilaku. Peran keluarga adalah sangat penting, terutama dari orang tua. Keluarga tidak boleh membeda-bedakan perilaku kedua mata pelajaran dan tidak memberikan terlalu banyak tanggung jawab untuk meningkatkan motivasi dan kepercayaan diri pada kedua mata pelajaran.




Referensi 

Muharani, Qorizky (2009) KEMANDIRIAN PADA PENYANDANG LOW VISION Studi Kasus Berdasar Teori Kepribadian Adler. Undergraduate thesis, Universitas Diponegoro.

Wulandari, Novia (2018) MANFAAT DUKUNGAN SOSIAL BAGI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS TUNANETRA DI YAYASAN SAYAP IBU.

KHOLIDAH, FAJARUL (2017) Upaya Pengembangan Kemandirian dalam Ibadah melalui Pembelajaran Pendidikan Agama Islam pada Siswa Tunanetra (Studi Kasus di Kelas V SLB ‘Aisyiyah Ponorogo). Undergraduate (S1) thesis, IAIN Kediri.

https://www.kajianpustaka.com/2019/11/jenis-karakteristik-penyebab-dan-metode-belajar-anak-tunanetra.html#:~:text=Menurut%20para%20medis%2C%20tunanetra%20merupakan,tidak%20lebih%20dari%2020%20derajat. diakses pada 3 Maret 2022 pukul 12.21


0 komentar:

Posting Komentar