Peripatetisme
Filsafat Peripatetisme
atau disebut juga al-Falsafah al-Masysya’iyyah. Apa itu filsafat
peripatetisme? Setelah mencari dari berbagai jurnal dan sumber-sumber di
internet, akhirnya saya bisa menyimpulkan bahwa istilah perapatetisme berasal
dari bahasa Yunani yaitu peripatein yang artinya berkeliling dan peripatos
yaitu beranda serta isme yang berarti aliran. Berarti peripatetisme
bisa berarti “Ia yang berjalan mengelilingi”. Arti ini merujuk pada Aristoteles
yang selalu berjalan-jalan mengelilingi muridnya ketika Ia mengajar filsafat.
Dalam Bahasa Arab, kata peripatetisme ini dikenal dengan istilah masysya’i yaitu
berjalan berputar. Dan alirannya disebut masysya’iyyah.
Jadi peripatetisme
adalah sebuah aliran filsafat yang menerapkan metode yang pernah digunakan oleh
Aristoteles kepada muridnya yaitu dengan berjalan-jalan dan mengililinginya.
Dalam filsafat Islam,
aliran masysya’iyyah pertama kali dikenalkan oleh al-Farabi yang dijuluki
sebagai guru kedua (almuallimu tsani). Dan mencapai puncaknya secara sempurna
dan besar-besaran pada masa Ibnu Sina yang mempunyai gelar al-Syekh al-Ra’is,
yaitu guru besar dan sang pemimpin. Dan karena keduanya, filsafat memperoleh
eksistensinya di agama Islam.
Menurut jurnal yang
saya baca dengan judul “Agama dan Filsafat Dalam Pemikiran Ibnu Sina” menjelaskan
bahwa Ibnu Sina dilahirkan di kampung Afsyanah, dekat dengan kawasan Bukhara
pada tahun 370 H atau 980 M. Nama lengkapnya adalah Abu Ali al-Husein ibn
Abdulah Ibn Sina. Ia seorang al-hakim al-masyhur atau filosof yang sangat
terkenal hingga diberikan gelar al-Syeikh al-Ra’is.
Pada usianya yang ke
sepuluh, Ia sudah hafal al-Qur’an, sastra, dan dapat menghafal beberapa pokok
agama Islam, matematika dan debat.
Kemudian menginjak usia enam belas tahun, Ia telah dikenal sebagai dokter yang
ahli dalam berbagai macam penyakit. Dua tahun setelahnya Ia telah menguasai
filsafat dan berbagai ilmu pengetahuan seperti matematika, astronomi, musik,
mistik, bahasa dan ilmu hukum islam. Namanya pun semakin terkenal dalam dunia
kedokteran, terutama setelah Ia mampu menyembuhkan penyakit yang diderita oleh
Sultan Bukhara yang imbalannya Ia diberi hadiah perpustakaan pribadinya yang
berisi buku-buku yang jarang ada di perpustakaan lainnya.
Ia memiliki kesungguhan
yang luar biasa dalam mencari ilmu dan bekerja. Pada saat siang, Ia mencari
nafkah dan pada malam hari, Ia bertafakur. Ia selalu berdoa, beribadah,
dan membaca. Pernah juga dikatakan bahwa Ibnu Sina pernah membaca selama empat
puluh kali buku metafisika karangan Aristoteles, tetapi Ia tidak memahaminya.
Lalu Ia membaca buku karangan al-Farabi yang Ia dapatkan dari pedagang yang
menjual buku bekas dengan harga murah. Dengan mudah, akhirnya Ia dapat memahami
buku Aristoteles dan menghafal isinya.
Masih dari jurnal yang
sama, karya Ibnu Sina juga dijelaskan di dalamnya. Beliau memiliki karya yang
sangat banyak serta kelengkapan risalahnya jauh melampaui risalah manapun.
Seorang sarjana Dominican telah menyusun daftar kitab-kitab dari 276 tulisan
dalam bentuk buku ataupun manuskrip. Dan diantaranya, buku-buku yang terkenal
adalah:
1. Kitab
Asy-Syifa. Sebuah tulisan tentang filsafat yang dibagi dari empat
bagian, yaitu: mantik, matematika, fisika, dan metafisika. Kitab ini sangat
tebal dan terdiri dari delapan belas jilid. Dengan kitab ini, Ibnu Sina telah
memperoleh keuddukan yang sangat tinggi baik di dunia timur maupun barat. Kitab
ini adalah eskiklopedia studi Islam Yunani pada abad ke 11 yang Ia susun dari
logika sampai matematika dan metafisika.
2. Kitab
Al-Najat. Adalah ringkasan kitab Al-Syifa yang lebih banyak
dibaca daripada al-Syifa itu sendiri. Dan ditulis untuk orang-orang
terpelajar yang ingin mengetahui dan memahami dengan lengkap dasar-dasar ilmu
hikmah. Buku ini dicetak pertama kali pada tahun 1331 M di Mesir.
3. Kitab
al-Qanun fi al-Thibb (Qanon of Medice), terdiri dari lima bagian, telah
diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa Eropa dan menjadi literatur pokok di
berbagai universitas di Eropa sampai akhir abad ke-17. Hingga kini masih
menjadi manuskrip di bidang kedokteran.
4. Kitab
al-Isyarat wa al-tanbihat. Ini merupakan kitab terakhir yang ditulis
Ibnu Sina. Buku yang paling indah dalam ilmu hikmah. Isinya mengandung berbagai
mutiara dari ahli pikir dan rahasia yang sangat berharga.
Dari
karya-karya ini, ajaran filsafat Peripatetisme diterapkan oleh Ibnu Sina.
Sebagai penekunnya, Ibnu Sina dapat menguasai, memahami, dan mengaplikasikan
ilmunya secara tepat. Dan dapat meraih pengetahuan yang benar.
Mencari jurnal dan
referensi lainnya, akhirnya saya menemukan jurnal yang berjudul “Ibnu Sina:
Pemikiran Filsafatnya Tentang Al-Fayd, Al-Nafs, Al-Nubuwwah, dan Al-Wujud” untuk
mengetahui tentang gagasan dan pemikiran Ibnu Sina. Dan masih membaca dari
jurnal sebelumnya, saya dapat menyimpulkan bahwa menurut Ibnu Sina, falsafah
dibagi menjadi dua bagian yaitu ilmu teoritis atau hikmah nadzariyah dan
ilmu praktis atau ‘Amaliyah.
1. Teori
Ontologi Ibnu Sina
Filsafat Ibnu Sina
menandai puncak filsafat paripatetik Islam yang didasarkan pada ontologi. Sehingga
Ibnu Sina juga disebut sebagai filosof wujud. Menurutnya ada tiga hukum untuk
membedakan wujud murni dengan eksistensi dunia.
Pertama,
al-wajib al-wujud, adalah realitas yang harus ada dan
tidak bisa tidak ada. Hanya ada satu yakni eksistensi Tuhan.
Kedua, al-Munkin
al-Wujud, yakni transedensi rantai wujud dan
tatanan eksistensi cosmis dan dunia yang bersifat pluralistis adlah tergantung
pada al-wajib al-wujud.
Ketiga,
al-Muntani’ al-wujud, yaitu wujud yang
tidak mungkin.
2. Filsafat
Emanasi (al-Fayd) dan Kosmologi Ibnu Sina
Filsafat emanasi dalam
teologi dan falsafah Islam bermaksud untuk memurnikan tauhid. Emanasi adalah
teori tentang keluarnya suatu Wujud Mumkin (alam makhluk) dari zat yang Wajib
al-Wujud. Teori ini juga disebut sebagai teori urut-urutan wujud. Pada
dasarnya adalah pengeluaran akal-akal. Akal pertama, berta’aqqul
mengeluarkan akal kedua, disampingnya juga mengeluarkan wujud yang lain.
3. Filsafat
Jiwa Ibnu Sina (al-Nafs)
Jiwa sebagai prinsip
kehidupan, merupakan sebuah pancaran (emanasi) dari akal kecerdasan aktif. Ibnu
Sina membagi jiwa menjadi tiga bagian, yaitu Jiwa nabati (ruh nabati),
ia mempunyai daya makan, tumbuh, dan berkembang biak. Kedua, jiwa binatang (ruh
Haywani) yang mempunyai daya gerak pindah dari satu tempat ketempat yang
lain dan daya menangkap dengan panca indra. Ketiga, jiwa manusia (ruh Insani)
mempunyai satu daya yaitu berpikir yang disebut akal.
4. Filsafat
Kenabian (al-Nubuwwah)
Ada empat tingkatan rasionalitas,
yang terendah adalah rasionalitas material (al-'aqlalhayûlâni).
Terkadang Tuhan akan memberi manusia hikmah materi yang maha kuasa dan sakti,
menurut Ibnu Sina (Ibnu Sina), itu diberi nama "alhads".
Kekuatan dalam pemikiran material ini begitu kuat sehingga mudah untuk
berhubungan dengan "kecerdasan aktif" tanpa pelatihan, dan mudah
untuk mendapatkan cahaya atau pencerahan dari Tuhan. Kecerdasan seperti ini
memiliki kekuatan kesucian (quwwah qadasiyyah) yang merupakan bentuk
nalar tertinggi yang dapat diperoleh umat manusia, namun nalar semacam ini
hanya dapat ditemukan pada para nabi.
Dari semua materi yang
sudah saya baca dari berbagai jurnal dan referensi, dapat disimpulkan bahwa Peripatetisme
adalah sebuah metode dalam pengajaran dan pemahaman filsafat. Dalam dunia
islam, ini disebut sebagai al-Falsafah al-Masysya’iyyah. Dan Ibnu Sina
adalah pemimpin dan guru besar yang mencapai puncaknya secara sempurna dengan
menggunakan Peripatetisme sehingga dapat menguasai, memahami, dan mengaplikasikan
ilmunya secara tepat. Dan dapat meraih pengetahuan yang benar. Sehingga Ibnu
Sina dapat melahirkan karya-karya terkenal dan gagasan-gagasannya yang tepat
dan luar biasa serta masih menjadi sebuah literatur pokok hingga kini.
Referensi
Ibrahim. (2016).
Sinergi Akal dan Wahyu Dalam Filsafat Peripatetisme Islam: Jurnal Aqidah. 2
(1), 1-10.
Nur, Abdullah. (2009).
Ibnu Sina: Pemikiran Filsafatnya Tentang Al-Fayd, Al-Nafs, Al-Nubuwwah, dan
Al-Wujud: Jurnal Hunafa. 6 (1), 105-116.
Gozali, Mukhtar. (2016).
Agama dan Filsafat Dalam Pemikiran Ibnu Sina: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam.
1 (2), 22-36.
