Get me outta here!

Kamis, 12 November 2020

Catatan Belajar #3 Filsafat Islam

 

Peripatetisme


Filsafat Peripatetisme atau disebut juga al-Falsafah al-Masysya’iyyah. Apa itu filsafat peripatetisme? Setelah mencari dari berbagai jurnal dan sumber-sumber di internet, akhirnya saya bisa menyimpulkan bahwa istilah perapatetisme berasal dari bahasa Yunani yaitu peripatein yang artinya berkeliling dan peripatos yaitu beranda serta isme yang berarti aliran. Berarti peripatetisme bisa berarti “Ia yang berjalan mengelilingi”. Arti ini merujuk pada Aristoteles yang selalu berjalan-jalan mengelilingi muridnya ketika Ia mengajar filsafat. Dalam Bahasa Arab, kata peripatetisme ini dikenal dengan istilah masysya’i yaitu berjalan berputar. Dan alirannya disebut masysya’iyyah.

 

Jadi peripatetisme adalah sebuah aliran filsafat yang menerapkan metode yang pernah digunakan oleh Aristoteles kepada muridnya yaitu dengan berjalan-jalan dan mengililinginya.

 

Dalam filsafat Islam, aliran masysya’iyyah pertama kali dikenalkan oleh al-Farabi yang dijuluki sebagai guru kedua (almuallimu tsani). Dan mencapai puncaknya secara sempurna dan besar-besaran pada masa Ibnu Sina yang mempunyai gelar al-Syekh al-Ra’is, yaitu guru besar dan sang pemimpin. Dan karena keduanya, filsafat memperoleh eksistensinya di agama Islam.

 Hidup Ibnu Sina

Menurut jurnal yang saya baca dengan judul “Agama dan Filsafat Dalam Pemikiran Ibnu Sina” menjelaskan bahwa Ibnu Sina dilahirkan di kampung Afsyanah, dekat dengan kawasan Bukhara pada tahun 370 H atau 980 M. Nama lengkapnya adalah Abu Ali al-Husein ibn Abdulah Ibn Sina. Ia seorang al-hakim al-masyhur atau filosof yang sangat terkenal hingga diberikan gelar al-Syeikh al-Ra’is.

 

Pada usianya yang ke sepuluh, Ia sudah hafal al-Qur’an, sastra, dan dapat menghafal beberapa pokok agama Islam,  matematika dan debat. Kemudian menginjak usia enam belas tahun, Ia telah dikenal sebagai dokter yang ahli dalam berbagai macam penyakit. Dua tahun setelahnya Ia telah menguasai filsafat dan berbagai ilmu pengetahuan seperti matematika, astronomi, musik, mistik, bahasa dan ilmu hukum islam. Namanya pun semakin terkenal dalam dunia kedokteran, terutama setelah Ia mampu menyembuhkan penyakit yang diderita oleh Sultan Bukhara yang imbalannya Ia diberi hadiah perpustakaan pribadinya yang berisi buku-buku yang jarang ada di perpustakaan lainnya.

 

Ia memiliki kesungguhan yang luar biasa dalam mencari ilmu dan bekerja. Pada saat siang, Ia mencari nafkah dan pada malam hari, Ia bertafakur. Ia selalu berdoa, beribadah, dan membaca. Pernah juga dikatakan bahwa Ibnu Sina pernah membaca selama empat puluh kali buku metafisika karangan Aristoteles, tetapi Ia tidak memahaminya. Lalu Ia membaca buku karangan al-Farabi yang Ia dapatkan dari pedagang yang menjual buku bekas dengan harga murah. Dengan mudah, akhirnya Ia dapat memahami buku Aristoteles dan menghafal isinya.

 Karya Ibnu Sina

Masih dari jurnal yang sama, karya Ibnu Sina juga dijelaskan di dalamnya. Beliau memiliki karya yang sangat banyak serta kelengkapan risalahnya jauh melampaui risalah manapun. Seorang sarjana Dominican telah menyusun daftar kitab-kitab dari 276 tulisan dalam bentuk buku ataupun manuskrip. Dan diantaranya, buku-buku yang terkenal adalah:

1.      Kitab Asy-Syifa. Sebuah tulisan tentang filsafat yang dibagi dari empat bagian, yaitu: mantik, matematika, fisika, dan metafisika. Kitab ini sangat tebal dan terdiri dari delapan belas jilid. Dengan kitab ini, Ibnu Sina telah memperoleh keuddukan yang sangat tinggi baik di dunia timur maupun barat. Kitab ini adalah eskiklopedia studi Islam Yunani pada abad ke 11 yang Ia susun dari logika sampai matematika dan metafisika.

2.      Kitab Al-Najat. Adalah ringkasan kitab Al-Syifa yang lebih banyak dibaca daripada al-Syifa itu sendiri. Dan ditulis untuk orang-orang terpelajar yang ingin mengetahui dan memahami dengan lengkap dasar-dasar ilmu hikmah. Buku ini dicetak pertama kali pada tahun 1331 M di Mesir.

3.      Kitab al-Qanun fi al-Thibb (Qanon of Medice), terdiri dari lima bagian, telah diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa Eropa dan menjadi literatur pokok di berbagai universitas di Eropa sampai akhir abad ke-17. Hingga kini masih menjadi manuskrip di bidang kedokteran.

4.      Kitab al-Isyarat wa al-tanbihat. Ini merupakan kitab terakhir yang ditulis Ibnu Sina. Buku yang paling indah dalam ilmu hikmah. Isinya mengandung berbagai mutiara dari ahli pikir dan rahasia yang sangat berharga.

Dari karya-karya ini, ajaran filsafat Peripatetisme diterapkan oleh Ibnu Sina. Sebagai penekunnya, Ibnu Sina dapat menguasai, memahami, dan mengaplikasikan ilmunya secara tepat. Dan dapat meraih pengetahuan yang benar.

 Gagasan Ibnu Sina

Mencari jurnal dan referensi lainnya, akhirnya saya menemukan jurnal yang berjudul “Ibnu Sina: Pemikiran Filsafatnya Tentang Al-Fayd, Al-Nafs, Al-Nubuwwah, dan Al-Wujud” untuk mengetahui tentang gagasan dan pemikiran Ibnu Sina. Dan masih membaca dari jurnal sebelumnya, saya dapat menyimpulkan bahwa menurut Ibnu Sina, falsafah dibagi menjadi dua bagian yaitu ilmu teoritis atau hikmah nadzariyah dan ilmu praktis atau ‘Amaliyah.

 

1.      Teori Ontologi Ibnu Sina

Filsafat Ibnu Sina menandai puncak filsafat paripatetik Islam yang didasarkan pada ontologi. Sehingga Ibnu Sina juga disebut sebagai filosof wujud. Menurutnya ada tiga hukum untuk membedakan wujud murni dengan eksistensi dunia.

Pertama, al-wajib al-wujud, adalah realitas yang harus ada dan tidak bisa tidak ada. Hanya ada satu yakni eksistensi Tuhan.

Kedua, al-Munkin al-Wujud, yakni transedensi rantai wujud dan tatanan eksistensi cosmis dan dunia yang bersifat pluralistis adlah tergantung pada al-wajib al-wujud.

Ketiga, al-Muntani’ al-wujud, yaitu wujud yang tidak mungkin.

2.      Filsafat Emanasi (al-Fayd) dan Kosmologi Ibnu Sina

Filsafat emanasi dalam teologi dan falsafah Islam bermaksud untuk memurnikan tauhid. Emanasi adalah teori tentang keluarnya suatu Wujud Mumkin (alam makhluk) dari zat yang Wajib al-Wujud. Teori ini juga disebut sebagai teori urut-urutan wujud. Pada dasarnya adalah pengeluaran akal-akal. Akal pertama, berta’aqqul mengeluarkan akal kedua, disampingnya juga mengeluarkan wujud yang lain.

3.      Filsafat Jiwa Ibnu Sina (al-Nafs)

Jiwa sebagai prinsip kehidupan, merupakan sebuah pancaran (emanasi) dari akal kecerdasan aktif. Ibnu Sina membagi jiwa menjadi tiga bagian, yaitu Jiwa nabati (ruh nabati), ia mempunyai daya makan, tumbuh, dan berkembang biak. Kedua, jiwa binatang (ruh Haywani) yang mempunyai daya gerak pindah dari satu tempat ketempat yang lain dan daya menangkap dengan panca indra. Ketiga, jiwa manusia (ruh Insani) mempunyai satu daya yaitu berpikir yang disebut akal.

4.      Filsafat Kenabian (al-Nubuwwah)

Ada empat tingkatan rasionalitas, yang terendah adalah rasionalitas material (al-'aqlalhayûlâni). Terkadang Tuhan akan memberi manusia hikmah materi yang maha kuasa dan sakti, menurut Ibnu Sina (Ibnu Sina), itu diberi nama "alhads". Kekuatan dalam pemikiran material ini begitu kuat sehingga mudah untuk berhubungan dengan "kecerdasan aktif" tanpa pelatihan, dan mudah untuk mendapatkan cahaya atau pencerahan dari Tuhan. Kecerdasan seperti ini memiliki kekuatan kesucian (quwwah qadasiyyah) yang merupakan bentuk nalar tertinggi yang dapat diperoleh umat manusia, namun nalar semacam ini hanya dapat ditemukan pada para nabi.

 


Dari semua materi yang sudah saya baca dari berbagai jurnal dan referensi, dapat disimpulkan bahwa Peripatetisme adalah sebuah metode dalam pengajaran dan pemahaman filsafat. Dalam dunia islam, ini disebut sebagai al-Falsafah al-Masysya’iyyah. Dan Ibnu Sina adalah pemimpin dan guru besar yang mencapai puncaknya secara sempurna dengan menggunakan Peripatetisme sehingga dapat menguasai, memahami, dan mengaplikasikan ilmunya secara tepat. Dan dapat meraih pengetahuan yang benar. Sehingga Ibnu Sina dapat melahirkan karya-karya terkenal dan gagasan-gagasannya yang tepat dan luar biasa serta masih menjadi sebuah literatur pokok hingga kini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Referensi

 

Ibrahim. (2016). Sinergi Akal dan Wahyu Dalam Filsafat Peripatetisme Islam: Jurnal Aqidah. 2 (1), 1-10.

 

Nur, Abdullah. (2009). Ibnu Sina: Pemikiran Filsafatnya Tentang Al-Fayd, Al-Nafs, Al-Nubuwwah, dan Al-Wujud: Jurnal Hunafa. 6 (1), 105-116.

 

Gozali, Mukhtar. (2016). Agama dan Filsafat Dalam Pemikiran Ibnu Sina: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam. 1 (2), 22-36.

Senin, 09 November 2020

Resensi Film | Al-Ghazali: The Alchemist of Happiness



Resensi Film

Judul                 : Al-Ghazali: The Alchemist of Happiness 
Tanggal Rilis    : 22 Oktober 2004
Jenis Film         : Documenter
Durasi Film       : 1 jam 20 menit
Director             : Abdul Latif Salazar

Pemeran      : 
-Ghorban Nadjafi sebagai Abu Hamid Muhammad Al-Ghazali 
-Dariush Arjmand sebagai Nizam al-Mulk 
-Robert Powell sebagai Pengisi Suara Al-Ghazali 
-Mitra Hajjar sebagai istri Ghazali 
-Abdol Reza Kermani sebagai Ahmad Ghazali 
-Muhammad Poorsattar sebagai Sufi Guardian 
-Ali Mayani sebagai Magician

Menggali kehidupan dan pengaruh filsuf spiritual dan hukum terbesar dalam sejarah Islam, film ini mengkaji krisis eksistensial keyakinan Ghazali yang muncul dari penolakannya terhadap dogmatisme agama, dan mengungkapkan kesamaan yang mendalam dengan zaman kita sekarang. Ghazali dikenal sebagai Bukti Islam dan jalan cinta dan kesempurnaan spiritualnya mengatasi jebakan-jebakan agama yang terorganisir pada zamannya. Jalannya sebagian besar ditinggalkan oleh para reformis Muslim awal abad ke-20 untuk sekolah Ibn Taymiyya yang lebih keras dan kurang toleran. Menggabungkan drama dengan dokumenter, film ini berpendapat bahwa Islam Ghazali adalah penangkal teror saat ini.
—Abdul Latif Salazar

The Alchemist of Happiness yang berarti Kimia Kebahagiaan, itulah judul dari film yang khusus didedikasikan kepada seorang Al-Ghazali ini. Nama asli Al-Ghazali adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al Ghazali ath-Thusi asy-Syafi'I (lahir di Thus; 1058 / 450 H – meninggal di Thus; 1111 / 14 Jumadil Akhir 505 H; umur 52–53 tahun). Film ini bercerita tentang perjalanan kisah hidup Al-Ghazali. Al-Ghazali adalah satu diantara banyaknya tokoh intelektual muslim yang karyanya menarik dan banyak diakui oleh kalangan ulama dan ilmuwan di seluruh dunia. 

Film ini berkisah tentang perjalanan Al-Ghazali yang mengabdikan hidupnya untuk menyelidiki rahasia keberadaan Tuhan dalam diri, spiritualitas. Realitas Puncak. Perjalanan hidup Al-Ghazali sejak dari muda sekali, sebelum umurnya 20 tahun ia tak henti-henti mengelbenai samudera yang sangat dalam dan tidak ada rasa takut sama sekali di dalam dirinya saat mengarungi samudera yang sangat dalam itu, setiap soal diselaminya dengan penuh keberanian.

Al-Ghazali tertarik pada semua yang menyangkut tentang ilmu pengetahuan sejak ditinggal oleh sang Ayah dan pada saat itu Al-Ghazali berusia sekitar 7 tahun. Pada saat itu pula Al-Ghazali dititipkan kepada gurunya sekaligus sahabat ayahnya untuk belajar, baik itu ilmu dunia maupun ilmu akhirat. Sesuatu yang dapat dipetik dari situ ialah tidak perlu menunggu tua untuk mencari ilmu, carilah ilmu sedari kecil atau sebelum dewasa karena itu bagai melukis diatas batu dan apabila kalian mencari ilmu sesudah dewasa maka itu bagai melukis diatas air. Oleh karena itu, sebagai seorang muslim kita harus bangga dengan hadirnya orang-orang muslim yang bisa menginspirasi orang-orang di dunia.

Film dokumenter ini membawa kita ke Baghdad pada abad ke-12 ketika salah satu pemikir terbesar islam, Al-Ghazali, tiba di Nizamiyya di mana dia membuat kesan yang cukup baik ketika dia memulai karir mengajar yang bergengsi. Tapi, seperti yang ditunjukkan oleh dokumenter itu, dalam beberapa tahun Ghazali mengalami perubahan, mulai mencurigai semua hal yang telah dia pelajari. Dia menghindari posisinya, meninggalkan sekolah dan melanjutkan pencarian untuk menyelami jiwanya, mencari tujuan yang dapat membawa keselamatan batin.

Salazar sebagai pencipta film ini membawa penonton ke perjalanan pencarian jiwa saat ia melakukan perjalanan mengikuti jejak Ghazali. Meskipun menggunakan latar yang alami dan sederhana, film ini memanfaatkan pemandangan, suara secara kreatif untuk memerankan kembali beberapa episode kehidupan dan waktu yang menarik seperti yang terjadi pada tahun 1111.

Dari film ini kita bisa belajar bahwa dunia ini tidak menjadi tempat abadi yang bisa kita tinggali selamanya. Kita harusnya mempersiapkan segalanya di dunia untuk kehidupan yang abadi yakni kehidupan setelah kematian. Segala sesuatu di dunia ini hanyalah sesuatu yang bisa hilang karena bersifat sesaat, karena sesungguhnya awal kehidupan yang abadi adalah setelah kematian dan kita tidak bisa sedikitpun menghindar dari kematian. Maka dari itu bekal yang kita cari selama hidup di dunia kelak akan bisa menyelamatkan kita di akhirat sana. Maka perbanyaklah amal-amal baik seperti yang telah dilakukan oleh Al-Ghazali yang rela meninggalkan segala sesuatu yang telah ia capai selama di dunia ini dan di akhir hidupnya ia pun semakin memperbaiki diri agar dia hidup bahagia di akhirat nanti.