Get me outta here!

Senin, 09 November 2020

Resensi Film | Al-Ghazali: The Alchemist of Happiness



Resensi Film

Judul                 : Al-Ghazali: The Alchemist of Happiness 
Tanggal Rilis    : 22 Oktober 2004
Jenis Film         : Documenter
Durasi Film       : 1 jam 20 menit
Director             : Abdul Latif Salazar

Pemeran      : 
-Ghorban Nadjafi sebagai Abu Hamid Muhammad Al-Ghazali 
-Dariush Arjmand sebagai Nizam al-Mulk 
-Robert Powell sebagai Pengisi Suara Al-Ghazali 
-Mitra Hajjar sebagai istri Ghazali 
-Abdol Reza Kermani sebagai Ahmad Ghazali 
-Muhammad Poorsattar sebagai Sufi Guardian 
-Ali Mayani sebagai Magician

Menggali kehidupan dan pengaruh filsuf spiritual dan hukum terbesar dalam sejarah Islam, film ini mengkaji krisis eksistensial keyakinan Ghazali yang muncul dari penolakannya terhadap dogmatisme agama, dan mengungkapkan kesamaan yang mendalam dengan zaman kita sekarang. Ghazali dikenal sebagai Bukti Islam dan jalan cinta dan kesempurnaan spiritualnya mengatasi jebakan-jebakan agama yang terorganisir pada zamannya. Jalannya sebagian besar ditinggalkan oleh para reformis Muslim awal abad ke-20 untuk sekolah Ibn Taymiyya yang lebih keras dan kurang toleran. Menggabungkan drama dengan dokumenter, film ini berpendapat bahwa Islam Ghazali adalah penangkal teror saat ini.
—Abdul Latif Salazar

The Alchemist of Happiness yang berarti Kimia Kebahagiaan, itulah judul dari film yang khusus didedikasikan kepada seorang Al-Ghazali ini. Nama asli Al-Ghazali adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al Ghazali ath-Thusi asy-Syafi'I (lahir di Thus; 1058 / 450 H – meninggal di Thus; 1111 / 14 Jumadil Akhir 505 H; umur 52–53 tahun). Film ini bercerita tentang perjalanan kisah hidup Al-Ghazali. Al-Ghazali adalah satu diantara banyaknya tokoh intelektual muslim yang karyanya menarik dan banyak diakui oleh kalangan ulama dan ilmuwan di seluruh dunia. 

Film ini berkisah tentang perjalanan Al-Ghazali yang mengabdikan hidupnya untuk menyelidiki rahasia keberadaan Tuhan dalam diri, spiritualitas. Realitas Puncak. Perjalanan hidup Al-Ghazali sejak dari muda sekali, sebelum umurnya 20 tahun ia tak henti-henti mengelbenai samudera yang sangat dalam dan tidak ada rasa takut sama sekali di dalam dirinya saat mengarungi samudera yang sangat dalam itu, setiap soal diselaminya dengan penuh keberanian.

Al-Ghazali tertarik pada semua yang menyangkut tentang ilmu pengetahuan sejak ditinggal oleh sang Ayah dan pada saat itu Al-Ghazali berusia sekitar 7 tahun. Pada saat itu pula Al-Ghazali dititipkan kepada gurunya sekaligus sahabat ayahnya untuk belajar, baik itu ilmu dunia maupun ilmu akhirat. Sesuatu yang dapat dipetik dari situ ialah tidak perlu menunggu tua untuk mencari ilmu, carilah ilmu sedari kecil atau sebelum dewasa karena itu bagai melukis diatas batu dan apabila kalian mencari ilmu sesudah dewasa maka itu bagai melukis diatas air. Oleh karena itu, sebagai seorang muslim kita harus bangga dengan hadirnya orang-orang muslim yang bisa menginspirasi orang-orang di dunia.

Film dokumenter ini membawa kita ke Baghdad pada abad ke-12 ketika salah satu pemikir terbesar islam, Al-Ghazali, tiba di Nizamiyya di mana dia membuat kesan yang cukup baik ketika dia memulai karir mengajar yang bergengsi. Tapi, seperti yang ditunjukkan oleh dokumenter itu, dalam beberapa tahun Ghazali mengalami perubahan, mulai mencurigai semua hal yang telah dia pelajari. Dia menghindari posisinya, meninggalkan sekolah dan melanjutkan pencarian untuk menyelami jiwanya, mencari tujuan yang dapat membawa keselamatan batin.

Salazar sebagai pencipta film ini membawa penonton ke perjalanan pencarian jiwa saat ia melakukan perjalanan mengikuti jejak Ghazali. Meskipun menggunakan latar yang alami dan sederhana, film ini memanfaatkan pemandangan, suara secara kreatif untuk memerankan kembali beberapa episode kehidupan dan waktu yang menarik seperti yang terjadi pada tahun 1111.

Dari film ini kita bisa belajar bahwa dunia ini tidak menjadi tempat abadi yang bisa kita tinggali selamanya. Kita harusnya mempersiapkan segalanya di dunia untuk kehidupan yang abadi yakni kehidupan setelah kematian. Segala sesuatu di dunia ini hanyalah sesuatu yang bisa hilang karena bersifat sesaat, karena sesungguhnya awal kehidupan yang abadi adalah setelah kematian dan kita tidak bisa sedikitpun menghindar dari kematian. Maka dari itu bekal yang kita cari selama hidup di dunia kelak akan bisa menyelamatkan kita di akhirat sana. Maka perbanyaklah amal-amal baik seperti yang telah dilakukan oleh Al-Ghazali yang rela meninggalkan segala sesuatu yang telah ia capai selama di dunia ini dan di akhir hidupnya ia pun semakin memperbaiki diri agar dia hidup bahagia di akhirat nanti.

0 komentar:

Posting Komentar