Get me outta here!

Rabu, 25 Mei 2022

STUDI KASUS KONSELING BERKEBUTUHAN KHUSUS #12 | AUTISME

 Autisme adalah Gangguan perkembangan serius yang mengganggu kemampuan berkomunikasi dan berinteraksi. Gangguan spektrum autisme yang memengaruhi sistem saraf. Rentang dan keparahan gejala dapat bervariasi. Gejala umum berupa sulit berkomunikasi, sulit berinteraksi sosial, minat yang obsesif, dan perilaku repetitif. Pengenalan dini, serta terapi perilaku, pendidikan, dan keluarga dapat mengurangi gejala dan mendukung pengembangan dan pembelajaran

Pendekatan yang digunakan pada Permasalahan yang dialami oleh Konseli

Layanan bimbingan dan konseling untuk anak berkebutuhan khusus bertujuan agar anak mendapatkan bimbingan dan konseling, anak berkebutuhan khusus dapat mencapai penyesuaian dan perkembangan yang optimal sesuai dengan kemampuan, bakat dan nilai yang dimilikinya. Untuk anak autis masalah tujuan pemberian bimbingan dan konseling kepada pembentukan kompensasi secara positif dari kekurangan dan kelainan yang diderita anak. 

Melalui layanan bimbingan dan konseling, para anak autis diharapkan dapat tidak terganggu dengan kelainan yang diderita, melainkan pada diri anak autis diharapkan ada usaha optimalisasikan untuk mengaktualisasikan sisa potensi yang dimiliki. 

Dalam kaitannya pemberian layanan dan bimbingan konseling kepada anak penyandang autis ini, banyak cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi perilaku implusif pada anak autis, salah satunya dengan menggunakan metode ABA (Applied Behavior Analysis) merupakan salah satu metode tata laksana perilaku yang telah berkembang sejak puluhan tahun lalunya.

Beberapa hal yang berkenaan dengan teknik-teknik ABA adalah sebagai berikut: 

1. Kepatuhan dan kontak mata adalah kunci masuk ke metode ABA. 

2. One-one-oneadalah salah satu terapis untuk satu anak. Siklus dan discrete trial training yang dimulai dengan intruksi, diakhiri dengan imbalan. 

3.Siklus penuh terdiri dari tiga instruksi, dengan pemberian tenggangan waktu 3-5 detik pada instruksi ke 1 dan ke 2 

4. Fading adalah mengarahkan anak ke perilaku target dengan promptpenuh, dan makin lama promptdikurangi secara bertahap sampai akhirnya anak mapu melakukan tanpa prompt. 


Perlu kita ketahui bahwa anak-anak yang berkebutuhan khusus seperti anak autis juga sangat memerlukan Bimbingan dan Konseling, karena mereka juga memiliki keterbatan dan kekurangan yang harus kita bimbing dan konseling dengan cara menggunakan salah satu metode di atas. Anak-anak yang berkebutuhan khusus juga harus diberi motivasi dan kasih sayang dari kita untuk menunjangnya 

Rabu, 18 Mei 2022

STUDI KASUS KONSELING BERKEBUTUHAN KHUSUS #11 | GIFTED

 GIFTED


Nama        : Nico


Nico adalah satu di antara sekian banyak anak Indonesia yang dikaruniai kecerdasan luar biasa. Bahasa umum yang sering digunakan adalah gifted. Di antara kehebatan Nico lainnya, dia dapat menyelesaikan susunan warna bricks dalam waktu sekitar 12 detik saja. 

Ketika duduk di bangku kelas II SD itu, Nico belum lancar membaca dan menulis. Bahkan, saat itu Julie sering dipanggil kepala sekolah. 

Nico menjalani tes IQ. Hasilnya, dia memiliki skor IQ 147 poin. Itu cukup tinggi jika dibandingkan dengan rerata IQ anak seusianya di Indonesia. Menurut data brainstats.com, rata-rata IQ warga Indonesia adalah 87 poin. Dengan tingkat IQ seperti itu, meskipun di kelas II SD tidak lancar baca dan tulis, Nico bisa menceritakan terjadinya hujan dengan detail. Bahkan, dia lancar menceritakan kenapa panda langka dan dilindungi. Menginjak kelas V SD, Nico dimasukkan ke Noble Academy. Tapi sebatas ikut ekstrakurikuler STEM (science, technology, engineering, and mathematic) dahulu. Jadi, Senin sampai Jumat Nico sekolah di sekolahan umum dan setiap Sabtu dia ikut di Noble Academy.


STUDI KASUS KONSELING BERKEBUTUHAN KHUSUS #10 | SLOW LEARNER

 SLOW LEARNER


1. Identitas

Nama        : Dita


·Kepribadian Pribadi Dita baik walaupun cenderung mudah putus asa dan kurang teliti dalam mengerjakan sesuatu. Dia selalu ingin semua keinginannya dituruti. Namun Dita tidak pernah  memilih-milih teman. ·    Tingkah laku Dita di rumah menunjukkan sikap yang cukup baik. Ia juga sangat patuh terhadap peraturan rumah. Ia termasuk anak yang disiplin baik dalam kebersihan rumah maupun kebersihan diri-sendiri. ·      Perkembangan jasmani Dita cukup baik. Dita memiliki fisik yang normal dan sama seperti teman-teman seusianya, bahkan termasuk anak yang cukup lincah dan enerjik.


Dita adalah anak pertama dari dua bersaudara. Ayahnya bekerja sebagai Pegawai Negeri. Ibunya sebagai pegawai hotel. Rumahnya tergolong sedang dan sederhana. Di dalam lingkungan rumah tersebut Dita tidak mengalami hambatan dalam berinteraksi dengan lingkungan tempat tinggalnya, sehingga hubungan bertetangganyapun cukup baik dan akrab.


Minat Dita terhadap kegiatan sekolah yang berhubungan dengan masalah pelajaran cukup baik walaupun secara intelektual Dita tertinggal dengan teman yang lain-lainnya. Hal ini dapat dilihat dari presensi Dita yang tidak pernah membolos dan selalu masuk sekolah.

Dita memiliki hobi mendengarkan musik. Kadang waktu luangnya sering dimanfaatkan atau digunakan untuk mendengarkan musik daripada mempelajari kembali pelajaran  yang sudah diterangkan di sekolah.


Rabu, 11 Mei 2022

STUDI KASUS KONSELING BERKEBUTUHAN KHUSUS #9 | ADHD DAN AUTISME

 STUDI KASUS ADHD

1. Profile

Nama : Angga Dani Ananda 

Tempat Tanggal Lahir : Sukoharjo, 14 Februari 2001

Agama : Islam 

Jumlah saudara : 3 

Alamat : Pundung Sari  

Nama ayah : Surono 

Nama ibu : Sumarni 


2. Kondisi Fisik

Subyek memiliki kesehatan yang baik dan tidak memiliki cacat tubuh serta tidak menderita suatu penyakit yang membahayakan, akan tetapi subyek hingga kini sering mengalami sakit radang tenggorokan. Gambaran fisik subyek yang lainnya adalah, subyek sering mengalami sakit di pergelangan tangan atau kaki. Hal tersebut subyek alami karena perilaku hiperaktif subyek seperti sering naik turun tangga di dalam rumah, sering naik pohon yang ada di lingkungan rumah serta gerakan tangan dan kaki subyek yang seolah-olah seperti gerak reflek, sehingga subyek sering mengalami cidera atau sakit fisik karena perilakunya tersebut.

3. Kehidupan Sosial

Aktifitas subyek baik di rumah dan di sekolah tidak jauh berbeda. Aktifitas yang dilakukan subyek menunjukkan perilaku hiperakti, baik di rumah maupun di sekolah. Perilaku hiperaktif yang dilakukan subyek ketika berada di rumah di antaranya menggerak-gerakan tangan dan kaki secara berlebihan seperti memukul-mukul benda yang ada di dekatnya, jika bermain tidak dapat bertahan lama dengan satu permainan, tidak dapat membereskan alat bermainnya setelah selesai bermaian selain itu perilaku subyek juga destruktif seperti mudah merusak mainannya. Selain hal tersebut jika di ajak bicara dengan orang tua atau pembantunya, subyek tidak dapat memperhatikan. Hal tersebut juga subyek alami ketika berada di sekolah. Aktifitas yang dilakukan subyek di sekolah menunjukkan bahwa subyek mengalami perilaku hiperaktif. perilaku hiperaktif pada saat di sekolah di antaranya sering menunjukkan sikap cuek dan tidak memperhatikan ketika diajak berbicara dengan orang lain dan cenderung semaunya sendiri, tidak dapat duduk tenang seperti banyak menggeliat di kursi pada waktu pelajaran, meninggalkan tempat duduk dan mondar-mandir dari bangku satu ke bangku teman satunya.

Hubungan subyek dengan teman, baik di rumah dan di sekolah juga tidak jauh berbeda. Dalam bergaul dengan lingkungan sekitar subyek selalu ingin menjadi pemimpin dalam permainan, ingin menang sendiri dan tidak mau kalah dengan teman-temannya yang lain.


4. Keluarga

Kedua orang tua subyek merupakan orang tua yang jarang berada di rumah. Ayah subyek bekerja sebagai polisi yang tidak tentu jadwal pekerjaannya, sedangkan ibu subyek bekerja sebagai PNS. Kedua orang tua subyek merupakan orang tua yang sibuk dengan pekerjaannya. Berangkat bekerja pagi dan pulang sore hari atau bahkan malam hari. Kedua kakak subyek juga tidak tinggal bersama dengan orang tua, karena bekerja dan kuliah di luar kota. Kondisi yang demikian membuat subyek jarang berkumpul dengan kedua orang tuanya serta membuat subyek hanya ditemani dengan pembantu di rumah. Hubungan subyek dengan pembantu lebih dekat disbanding dengan orang tuanya, karena segala sesuatu yang dibutuhkan subyek dibantu oleh pembantu, dari hal yang dibutuhkan subyek sebelum berangkat sekolah hingga subyek pulang sekolah, seperti peralatan sekolah hingga baju yang digunakan subyek sepulang sekolah.

Kedua orang tua subyek merupakan orang tua yang memberikan kasih sayang berlebihan, hal ini dapat terlihat dari sikap dan cara pendidikan orang tua yang diterapkan pada subyek serta segala sesuatu yang diinginkan subyek selalu dituruti oleh kedua orang tua. Selain hal tersebut kedua orang tua subyek juga menerapkan disiplin yang ketat pada subyek seperti sepulang sekolah harus segera pulang, subyek harus dapat menjadi yang pertama di kelas, belajar harus tepat 67 waktu dan tidak diperbolehkan main di luar rumah tanpa ditemani oleh pembantunya. Hal tersebut dilakukan orang tua subyek dengan alasan bahwa subyek merupakan anak laki-laki dalam keluarga dan menginginkan subyek kelak dapat menjadi pemimpin yang lebih dibanding orang tua. Selain hal tersebut, orang tua subyek terdapat kekhawatiran jika subyek salah bergaul dengan lingkungan sekitar, sehingga mereka memperlakukan subyek dengan demikian.



Kamis, 21 April 2022

STUDI KASUS KONSELING BERKEBUTUHAN KHUSUS #8 | TUNALARAS

  TUNALARAS

Identitas 

Nama        : Kosmos

Tempat, tgl lahir : Ambon, 9 April 1995 

Agama : kristen 

Status : Anak ke 3 dari 4 bersaudara 

Alamat : Asrama atau di Gilingan bersama neneknya 

Identitas orang tua ABK 

Nama Ayah/Ibu : Sarmudih/Antoniah 

Umur : 52 tahun 

Pendidikan : SMP 

Pekerjaan : serabutan/ penjual sayur 

Alamat : Ambon 

Status perkewinan : utuh 

Status sosial-ekonomi : kurang 

Kepedulian : terhadap anak dan pendidikannya cendrung tidak peduli & mengabaikan,disebabkan oleh faktor ekonomi yang lemah


2. Pendidikan

Lima tahun yang lalu kosmos dimasukan ke sebuah sekolah reguler SD Nusukan Barat 113 Solo. Ternyata disana ia tidak bisa mengikuti kegiatan belajar mengajar dengan baik, setelah diidentifikasi kosmos ini memiliki gangguan emosi dan sosial. Sehingga ia dikategorikan sebagai anak yang mengalami ketunalarasan. Sehingga ia di masukan ke SLB E Bhina Putera Surakarta Riwayat perkembangan Fisik dan kognitif baik, normal seperti umumnya pada anak-anak (tak diketahui adanya gangguan). Berkembang sesuai dengan usia Kepribadian diperoleh dari hasil meniru pribadi-pribadi yang ada di lingkungan tempat ia berasal (Ambon yang pada saat itu merupakan daerah  konflik,  banyak orang-orang yang bertemparamen tinggi, berwatak keras, pendendam, mudah di sulut emosinya, dll) Sosial, kurang bisa berinteraksi dengan baik karena adanya ketidaknyamanan dan ketidakamanan yang dirasakan anak. Diakibaatkan karena trauma akan konflik yang pernah di alami anak.


3. Kehidupan Sosial

Ketunalarasan yang dialami anak diperoleh karena adanya konflik di Ambon. Disana prilaku dan sikap masyarakat terhadap masyarakat lain banyak negatif, sehingga anak mencontoh prilaku dan sikap tersebut. Yang pada akhirnya, semua prilaku itu menjadi miliknya. Kehidupan sosial, pada awalnya anak seringkali berteman hanya dengan anak-anak yang berasal dari Ambon. Atau anak-anak yang menurutnya mempunyai kesamaan, baik latar belakang atau kesukaan yang sama.


4. Penyimpangan prilaku yang dihadapi

Gejala prilaku yang tampak menonjol adalah mencuri dan berbohong, apabila marah membawa batu untuk memecahkan kaca atau dilempar pada orang. Faktor yang mempengaruhi prilaku tersebut berupa faktor eksternal yang berasal dari lingkungan keluarga yang kurang perhatian dan kurang memberikan kasih sayang. Lingkungan masyarakat yang bersitegang karena konflik. Sedangkan factor internal berupa ketidaksiapan/ belum matangnya perkembangan anak. Sehingga kurang bisa memahami apa yang sedang terjadi, tidak tahu apa yang harus saya lakukan, terbawa keadaan, dll. Dugaan sebab utama adalah ke dua faktor diatas. Upaya treatment yang sudah dilakukan Oleh neneknya di masukan ke SLB E Solo. Di Sekolah, guru berusaha memaksimalkan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM), melakukan pembinaan di asrama  dengan cara memasukannya ke sana, dan melakukan pembinaan keagamaan. Treatment ini menghasilkan 75% keberhasilan.



PENDEKATAN YANG DIGUNAKAN PADA PERMASALAHAN YANG DIALAMI OLEH KONSELI

gangguan emosi pada tunalaras harus dilakukan terapi, salah satu terapi yang dikaji dalam hal ini adalah terapi tingkah laku yang bertujuan mengubah perilaku yang tidak dikehendaki dan diharapkan munculnya tingkah laku baru yang dikehendaki. Terapi tingkah laku merupakan penerapan berbagai teknik dan prosedur yang ada dalam bernagai teori belajar agar penyimpangan perilaku semakin berkurang. Terapi periku mempunyai ciri, dilakukan dengan berbagai metode atau teknik–teknik yaitu teknik desensitikasi sistematik, teknik inplosif, teknik latihan afersif, teknik hukuman, dan teknik pengkondisian peran, serta teknik tersebut harus dilakukan dengan tepat agar hasil terapi sesuai dengan apa yang diharapkan.


Konseling behavior adalah sebuah proses konseling (bantuan) yang diberikan oleh konselor kepada klien dengan menggunakan pendekatan-pendekatan tingkah laku (behavioral), dalam hal pemecahan masalah-masalah yang dihadapi serta dalam penentuan arah kehidupan yang ingin dicapai oleh diri klien. Konseling behavioral merupakan suatu proses membantu orang untuk belajar memecahkan masalah interpersonal, emosional, dan keputusan tertentu (Surya, 2003). 

Adapun alasan memilih pendekatan Behavioral yaitu: Untuk menciptakan perilaku yang baru, menghapus atau menghilangkan perilaku yang tidak sesuai, memperkuat dan mempertahankan perilaku yang diinginkan. 

Pendekatan konseling behavioral ini berusaha untuk mengubah perilaku yang tadinya tidak selaras dengan anak anak pada umum nya menjadi sesuai dengan anak pada umumnya. Tujuannya sendiri yaitu untuk menghilangkan perilaku negatif dan menggantinya dengan perilaku yang lebih baik lagi secara sosial.


LANGKAH LANGKAH PELAKSANAAN KONSELING 

1. Melakukan Assesmen pada klien baik dari segala sisi dan aspek. 

2. Menentukan tujuan yang seharusnya diketahui klien dari orang tua nya 

3. Mengimplementasikan teknik yang sesuai pada situasi dan kondisi Evaluasi dan mengakhiri konseling

Selasa, 12 April 2022

STUDI KASUS KONSELING BERKEBUTUHAN KHUSUS #7 | TUNALARAS

 TUNALARAS

Identitas 

Nama        : Kosmos

Tempat, tgl lahir : Ambon, 9 April 1995 

Agama : kristen 

Status : Anak ke 3 dari 4 bersaudara 

Alamat : Asrama atau di Gilingan bersama neneknya 

Identitas orang tua ABK 

Nama Ayah/Ibu : Sarmudih/Antoniah 

Umur : 52 tahun 

Pendidikan : SMP 

Pekerjaan : serabutan/ penjual sayur 

Alamat : Ambon 

Status perkewinan : utuh 

Status sosial-ekonomi : kurang 

Kepedulian : terhadap anak dan pendidikannya cendrung tidak peduli & mengabaikan,disebabkan oleh faktor ekonomi yang lemah


2. Pendidikan

Lima tahun yang lalu kosmos dimasukan ke sebuah sekolah reguler SD Nusukan Barat 113 Solo. Ternyata disana ia tidak bisa mengikuti kegiatan belajar mengajar dengan baik, setelah diidentifikasi kosmos ini memiliki gangguan emosi dan sosial. Sehingga ia dikategorikan sebagai anak yang mengalami ketunalarasan. Sehingga ia di masukan ke SLB E Bhina Putera Surakarta Riwayat perkembangan Fisik dan kognitif baik, normal seperti umumnya pada anak-anak (tak diketahui adanya gangguan). Berkembang sesuai dengan usia Kepribadian diperoleh dari hasil meniru pribadi-pribadi yang ada di lingkungan tempat ia berasal (Ambon yang pada saat itu merupakan daerah  konflik,  banyak orang-orang yang bertemparamen tinggi, berwatak keras, pendendam, mudah di sulut emosinya, dll) Sosial, kurang bisa berinteraksi dengan baik karena adanya ketidaknyamanan dan ketidakamanan yang dirasakan anak. Diakibaatkan karena trauma akan konflik yang pernah di alami anak.


3. Kehidupan Sosial

Ketunalarasan yang dialami anak diperoleh karena adanya konflik di Ambon. Disana prilaku dan sikap masyarakat terhadap masyarakat lain banyak negatif, sehingga anak mencontoh prilaku dan sikap tersebut. Yang pada akhirnya, semua prilaku itu menjadi miliknya. Kehidupan sosial, pada awalnya anak seringkali berteman hanya dengan anak-anak yang berasal dari Ambon. Atau anak-anak yang menurutnya mempunyai kesamaan, baik latar belakang atau kesukaan yang sama.


4. Penyimpangan prilaku yang dihadapi

Gejala prilaku yang tampak menonjol adalah mencuri dan berbohong, apabila marah membawa batu untuk memecahkan kaca atau dilempar pada orang. Faktor yang mempengaruhi prilaku tersebut berupa faktor eksternal yang berasal dari lingkungan keluarga yang kurang perhatian dan kurang memberikan kasih sayang. Lingkungan masyarakat yang bersitegang karena konflik. Sedangkan factor internal berupa ketidaksiapan/ belum matangnya perkembangan anak. Sehingga kurang bisa memahami apa yang sedang terjadi, tidak tahu apa yang harus saya lakukan, terbawa keadaan, dll. Dugaan sebab utama adalah ke dua faktor diatas. Upaya treatmennt yang sudah dilakukan Oleh neneknya di masukan ke SLB E Solo. Di Sekolah, guru berusaha memaksimalkan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM), melakukan pembinaan di asrama  dengan cara memasukannya ke sana, dan melakukan pembinaan keagamaan. Treatment ini menghasilkan 75% keberhasilan.



Kamis, 07 April 2022

STUDY KASUS KONSELING BERKEBUTUHAN KHUSUS #5 | TUNADAKSA

1. Identitas

Nama     : Bayu Novembri Adadikan

Tanggal Lahir       : 18 November 1998

Bayu adalah anak dari pasangan John Adadika dan Triverna Martini, Dia anak ke-3 dari 4 (empat) bersaudara. Pekerjaan ayahnya sebagai LSM dan ibunya sebagai ibu rumah tangga. 

2. Kehidupan Pribadi

Bayu tinggal bersama orang tuanya di banjaran RT 01/RW 12. Bayu lahir tidak normal atau dikenal dengan lahir prematur sehingga mengalami kelumpuhan pada kakinya. Pertumbuhan dan perkembangan Bayu juga tidak berjalan dengan baik jika dilihat dari bentuk fisik Bayu. Kelumpuhan Bayu ini membuat Bayu tidak bisa berjalan dengan normal seperti kakak dan adiknya. Bayu berjalan sengan merangkak menggunakan kedua tangan dan kedua kakinya yang kurang sempurna. Sedikit demi sedikit akhirnya Bayu bisa berjalan tetapi berbeda dengan anak yang lainnya. Bayu berjalan seperti kelainan kaki ”Leter X”, itupun harus dibantu oleh orang lain dan biasa juga merambat lewat tembok atau pagar.

3. Kehidupan Sosial

Dimata teman-teman Bayu adalah seorang anak yang baik. Bayu sering membantu temanya-temannya bila ada yang mengalami kesulitan. Dalam belajar Bayu tidak pernah tinggal kelas. Bayu memiliki semangat belajar yang tinggi, disaat Bayu sakit dia tetap masuk sekolah dan senang berada di sekolah itu. Selain bisa belajar juga bisa bermain-main dengan teman-teman satu sekolah.

4. Prestasi

Walaupun berkelainan Bayu tetap memiliki cita-cita. Dia senang menekuni bidang kesenian khususnya bernyanyi dan bermain gamelan. Tak menyangka disisi kelemahannya ada banyak potensi yang dia miliki yang bisa dia kembangkan menjadi sesuatu yang luar biasa. Selain itu, ia juga ingin menjadi seorang dokter menunjukkan bahwa ia memiliki cita-cita yang tinggi dalam hidupnya. Hidup adalah proses, jika bisa melewati langkah demi langkah dan mampu mengatasi pasti berhasil dan mencapai tujuan yaitu sukses.

5. Keluarga

Didalam lingkungan keluarga, Bayu seperti anak pingit oleh karena orang tuanya, dia tidak boleh kemana-mana hanya didalam rumah, teras dan di sekolah. Dalam menghabiskan waktu dirumah Bayu hanya menonton TV dan bermain dengan saudaranya. Orang tuanya kawatir kalau terjadi sesuatu dengan Bayu karena Bayu berkelainan dan berbeda dengan anak-anak yang normal.