TUNALARAS
Identitas
Nama : Kosmos
Tempat, tgl lahir : Ambon, 9 April 1995
Agama : kristen
Status : Anak ke 3 dari 4 bersaudara
Alamat : Asrama atau di Gilingan bersama neneknya
Identitas orang tua ABK
Nama Ayah/Ibu : Sarmudih/Antoniah
Umur : 52 tahun
Pendidikan : SMP
Pekerjaan : serabutan/ penjual sayur
Alamat : Ambon
Status perkewinan : utuh
Status sosial-ekonomi : kurang
Kepedulian : terhadap anak dan pendidikannya cendrung tidak peduli & mengabaikan,disebabkan oleh faktor ekonomi yang lemah
2. Pendidikan
Lima tahun yang lalu kosmos dimasukan ke sebuah sekolah reguler SD Nusukan Barat 113 Solo. Ternyata disana ia tidak bisa mengikuti kegiatan belajar mengajar dengan baik, setelah diidentifikasi kosmos ini memiliki gangguan emosi dan sosial. Sehingga ia dikategorikan sebagai anak yang mengalami ketunalarasan. Sehingga ia di masukan ke SLB E Bhina Putera Surakarta Riwayat perkembangan Fisik dan kognitif baik, normal seperti umumnya pada anak-anak (tak diketahui adanya gangguan). Berkembang sesuai dengan usia Kepribadian diperoleh dari hasil meniru pribadi-pribadi yang ada di lingkungan tempat ia berasal (Ambon yang pada saat itu merupakan daerah konflik, banyak orang-orang yang bertemparamen tinggi, berwatak keras, pendendam, mudah di sulut emosinya, dll) Sosial, kurang bisa berinteraksi dengan baik karena adanya ketidaknyamanan dan ketidakamanan yang dirasakan anak. Diakibaatkan karena trauma akan konflik yang pernah di alami anak.
3. Kehidupan Sosial
Ketunalarasan yang dialami anak diperoleh karena adanya konflik di Ambon. Disana prilaku dan sikap masyarakat terhadap masyarakat lain banyak negatif, sehingga anak mencontoh prilaku dan sikap tersebut. Yang pada akhirnya, semua prilaku itu menjadi miliknya. Kehidupan sosial, pada awalnya anak seringkali berteman hanya dengan anak-anak yang berasal dari Ambon. Atau anak-anak yang menurutnya mempunyai kesamaan, baik latar belakang atau kesukaan yang sama.
4. Penyimpangan prilaku yang dihadapi
Gejala prilaku yang tampak menonjol adalah mencuri dan berbohong, apabila marah membawa batu untuk memecahkan kaca atau dilempar pada orang. Faktor yang mempengaruhi prilaku tersebut berupa faktor eksternal yang berasal dari lingkungan keluarga yang kurang perhatian dan kurang memberikan kasih sayang. Lingkungan masyarakat yang bersitegang karena konflik. Sedangkan factor internal berupa ketidaksiapan/ belum matangnya perkembangan anak. Sehingga kurang bisa memahami apa yang sedang terjadi, tidak tahu apa yang harus saya lakukan, terbawa keadaan, dll. Dugaan sebab utama adalah ke dua faktor diatas. Upaya treatment yang sudah dilakukan Oleh neneknya di masukan ke SLB E Solo. Di Sekolah, guru berusaha memaksimalkan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM), melakukan pembinaan di asrama dengan cara memasukannya ke sana, dan melakukan pembinaan keagamaan. Treatment ini menghasilkan 75% keberhasilan.
PENDEKATAN YANG DIGUNAKAN PADA PERMASALAHAN YANG DIALAMI OLEH KONSELI
gangguan emosi pada tunalaras harus dilakukan terapi, salah satu terapi yang dikaji dalam hal ini adalah terapi tingkah laku yang bertujuan mengubah perilaku yang tidak dikehendaki dan diharapkan munculnya tingkah laku baru yang dikehendaki. Terapi tingkah laku merupakan penerapan berbagai teknik dan prosedur yang ada dalam bernagai teori belajar agar penyimpangan perilaku semakin berkurang. Terapi periku mempunyai ciri, dilakukan dengan berbagai metode atau teknik–teknik yaitu teknik desensitikasi sistematik, teknik inplosif, teknik latihan afersif, teknik hukuman, dan teknik pengkondisian peran, serta teknik tersebut harus dilakukan dengan tepat agar hasil terapi sesuai dengan apa yang diharapkan.
Konseling behavior adalah sebuah proses konseling (bantuan) yang diberikan oleh konselor kepada klien dengan menggunakan pendekatan-pendekatan tingkah laku (behavioral), dalam hal pemecahan masalah-masalah yang dihadapi serta dalam penentuan arah kehidupan yang ingin dicapai oleh diri klien. Konseling behavioral merupakan suatu proses membantu orang untuk belajar memecahkan masalah interpersonal, emosional, dan keputusan tertentu (Surya, 2003).
Adapun alasan memilih pendekatan Behavioral yaitu: Untuk menciptakan perilaku yang baru, menghapus atau menghilangkan perilaku yang tidak sesuai, memperkuat dan mempertahankan perilaku yang diinginkan.
Pendekatan konseling behavioral ini berusaha untuk mengubah perilaku yang tadinya tidak selaras dengan anak anak pada umum nya menjadi sesuai dengan anak pada umumnya. Tujuannya sendiri yaitu untuk menghilangkan perilaku negatif dan menggantinya dengan perilaku yang lebih baik lagi secara sosial.
LANGKAH LANGKAH PELAKSANAAN KONSELING
1. Melakukan Assesmen pada klien baik dari segala sisi dan aspek.
2. Menentukan tujuan yang seharusnya diketahui klien dari orang tua nya
3. Mengimplementasikan teknik yang sesuai pada situasi dan kondisi Evaluasi dan mengakhiri konseling
0 komentar:
Posting Komentar