Get me outta here!

Rabu, 28 Oktober 2020

Catatan Belajar #2 | Filsafat Islam

 



Assalamu'alaikum 

Dengan aku lagi Annida Fitriani kembali menulis catatan belajarku yang kedua dari mata kuliah Filsafat islam, yang sebelumnya aku menulis catatan belajar pertama tentang hakikat dan urgensi filsafat yang bisa kamu baca disini

Pada postingan kali ini aku akan menuliskan catatan belajarku tentang manusia dalam ilmu filsafat. Banyak pengetahuan yang aku dapat ketika mempelajari materi ini dan akan aku jelaskan di bawah ini. 


Manusia adalah makhluk yang berakal budi dan mampu menguasai makhluk lain, atau makhluk yang bisa berpikir dan mengembangkan pemikirannya. Dalam ilmu mantiq (logika) manusia disebut sebagai Al-Insanu hayawanun nathiq (manusia adalah binatang yang berfikir). 

Sebagai binatang yang mampu berpikir bahwa manusia berbeda dengan binatang. Meskipun fungsi tubuh dan fisiologis manusia pada dasarnya sama dengan hewan, namun hewan lebih mengandalkan fungsi hewan, yaitu naluri dan pola tingkah lakunya yang unik. Semakin tinggi tingkat perkembangan hewan dan semakin fleksibel cara kerjanya, semakin kurang lengkap penyesuaian struktural yang harus dilakukan saat lahir.

 

Manusia menyadari bahwa dirinya sangat berbeda dari binatang apa pun. Tetapi memahami siapa sebenarnya manusia itu bukan persoalan yang mudah. Ini terbukti dari pembahasan manusia tentang dirinya sendiri yang telah berlangsung demikian lama. Barangkali sejak manusia diberi kemampuan berpikir secara sistematik, pertanyaan tentang siapakah dirinya itu mulai timbul. Namun informasi secara tertulis tentang hal ini baru terlacak pada masa Para pemikir kuno Romawi yang konon dimulai dari Thales (abad 6 SM).

 

Dalam al-Qur’an istilah manusia disebut dengan kata-kata: al-Insan, al-Basyar dan Banu Adam.

  1. Sebagian ulama berpendapat, al-Insan diambil dari kata nasiya-yansa nasyan yang berarti lupa, maksudnya manusia sering melupakan janjinya kepada Tuhan.
  2. Al-Insan diambil dari kata nasa-yanusu yang berarti bergoncang.
  3. Al-Insan diambil dari kata ins yang berarti jinak.

Berikut pandangan filsafat terhadap manusia dari beberapa sudut pandang yakni dari:

1.      Teori descendensi, Teori ini meletakkan manusia sejajar dengan hewan berdasarkan sebab mekanis. Artinya manusia tidaklah jauh berbeda dengan hewan, dimana manusia termasuk hewan yang berfikir, melakukan segala aktivitas hidupnya, manusia juga tidak beda dengan binatang yang menyusui.

 

Beberapa ahli filsafat berbeda pemikiran dalam mendefinisikan manusia. Manusia adalah makhluk yang concerned (menaruh minat yang besar) terhadap hal-hal yang berhubungan dengannya, sehingga tidak ada henti-hentinya selalu bertanya dan berpikir.

 

Aristoteles (384-322 SM), seorang filosof besar Yunani mengemukakan bahwa manusia adalah hewan yang berakal sehat, yang mengeluarkan pendapatnya, yang berbicara berdasarkan akal-pikirannya. Juga manusia adalah hewan yang berpolitik (zoonpoliticon, political animal), hewan yang membangun masyarakat di atas famili-famili menjadi pengelompokkan yang impersonal dari pada kampung dan negara. Manusia berpolitik karena ia mempunyai bahasa yang memungkinkan ia berkomunikasi dengan yang lain. Dan didalam masyarakat manusia mengenal adanya keadilan dan tata tertib yang harus dipatuhi. Ini berbeda dengan binatang yang tidak pernah berusaha memikirkan suatu cita keadilan.

 

Berdasarkan Thomas Hobbes, Homo homini lupus artinya manusia yang satu serigala manusia yang lainnya (berdasarkan sifat dan tabiat) Nafsu yang paling kuat dari manusia adalah nafsu untuk mempertahankan diri, atau dengan kata lain, ketakutan akan kehilangan nyawa.

 

Menurut Nietsche, bahwa manusia sebagai binatang kekurangan (a shortage animal). Selain itu juga menyatakan bahwa manusia sebagai binatang yang tidak pernah selesai atau tak pernah puas ( das rucht festgestelte tier ). Artinya manusia tidak pernah merasa puas dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.Menurut Julien, bahwa manusia manusia tak ada bedanya dengan hewan karena manusia merupakan suatu mesin yang terus bekerja ( de lamittezie). Artinya bahwa dari aktivitas manusia dimulai bangun tidur sampai ia tidur kembali manusia tidak berhenti untuk beraktivitas.

 

Menurut Ernest Haeskel, bahwa manusia merupakan (animalisme), tak ada sanksi bahwa segala hal manusia sungguh-sungguh ialah binatang beruas tulang belakang yakni hewan menyusui. Artinya bahwa tidak diragukan lagi manusia adalah sejajar dengan hewan yang menyusui.

 

Menurut Adi Negara bahwa alam kecil sebagian alam besar yang ada di atas bumi. Sebagian dari makhluk yang bernyawa, sebagian dari bangsa antropomoker, binatang yang menyusui, akan tetapi makhluk yang mengetahui keadaan alamnya, yang mengetahui dan dapat menguasai kekuatan alam di luar dan di dalam dirinya (lahir dan batin).

2.      Metafisika, adalah teori yang memandang keberadaan sesuatu dibalik atau di belakang fisik. Dalam teori ini manusia dipandang dari dua hal yakni:

a.       Fisik, yang terdiri dari zat. Artinya bahwa manusia tercipta terdiri dari beberapa sel, yang dapat di indera dengan panca indera

b.      Ruh, manusia identik dengan jiwa yang mencakup imajinasi, gagasan, perasaan dan penghayatan semua itu tidak dapat diindera dengan panca indera.

4.      Psikomatik, memandang manusia hanya terdiri atas jasad yang memiliki kebutuhan untuk menjaga keberlangsungannya artinya manusia memerlukan kebutuhan primer (sandang, pangan dan papan) untuk keberlangsungan hidupnya.

 

Manusia terdiri dari sel yang memerlukan materi cenderung bersifat duniawi yang diatur oleh nilai-nilai ekonomi (dinilai dengan harta / uang) artinya manusia memerlukan kebutuhan duniawi yang harus dipenuhi, apabila kebutuhan tersebut sudah terpenuhi maka mereka akan merasa puas terhadap pencapaiannya.

 

Manusia juga terdiri dari ruh yang memerlukan nilai spiritual yang diatur oleh nilai keagamaan (pahala). Dalam menjalani kehidupan duniawi manusia membutuhkan ajaran agama, melalui ceramah keagamaan untuk memenuhi kebutuhan rohaninya. Dalam hal ini manusia ingin menjadi manusia yang paling sempurna. Untuk menjadi manusia sempurna haruslah memiliki unsur-unsur sebagai berikut :

 

a.       Rasionalitas

b.      Kesadaran

c.       Akal budi

d.      Spiritualitas

e.       Moralitas

f.       Sosialitas

g.      Keselarasan dengan alam




Kamis, 15 Oktober 2020

Catatan Belajar #1 Filsafat Islam


 

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Perkenalkan nama saya Annida Fitriani seorang mahasiswa semester 3 jurusan Bimbingan Konseling Islam di UIN SMH Banten. Saya menulis ini sebagai tugas dari mata kuliah Filsafat Islam dan sebagai evaluasi belajar saya agar lebih baik dari sebelumnya.

Di catatan belajar #1 ini saya akan menceritakan perjalanan belajar saya untuk mata kuliah Filsafat Islam yang saya tidak sangka akan semenyenangkan ini saat mempelajarinya. Banyak hal yang membuka mata saya tentang filsafat yang saya tahu selalu dianggap sebelah mata oleh orang-orang. Dosen Filsafat saya yaitu Pak Ahmad Fadhil sangat pandai menjelaskan mata kuliah Filsafat Islam, dan sangat mudah untuk dimengerti oleh saya sendiri.

Banyak hal yang bisa dibahas tentang Filsafat Islam tapi kali ini saya hanya akan menjelaskan tentang Pengantar dari Filsafat Islam sendiri terutama hakikat dan urgensi filsafat.

Filsafat sering sekali dipandang sebagai pemikiran yang membingungkan bahkan menyesatkan umat manusia. Pandangan semacam ini tentunya sangat disayangkan, karena filsafat secara esensial justru sangat penting artinya bagi kehidupan manusia, khususnya dalam menyelesaikan berbagai persoalan kemanusiaan. Filsafat secara umum adalah berpikir secara menyeluruh, mendalam, radikal dan rasional, tentang sesuatu. 

Syamsuddin Arif dan Dinar Dewi Kania, menegaskan bahwa dalam tradisi intelektual Islam, ditemukan beberapa istilah yang umum untuk filsafat. Antara lain, istilah hikmah, yang tampaknya dipakai untuk menimbulkan kesan bahwa filsafat bukanlah barang asing, akan tetapi berasal dan bermuara pada alQur’an.3 Kendati filsafat merupakan tradisi intelektual Islam, namun tidak sedikit yang berpandangan antipati dengan filsafat. Pandangan ini melihat filsafat sebagai barang import yang mengandung unsur-unsur ateisme, sekularisme, relativisme, pluralisme, dan liberalism. Paham-paham inilah sesungguhnya yang ditolak oleh para ulama Islam, yaitu filsafat yang menggiring pelakunya kepada sikap anti Tuhan, dan anti agama, mendewakan akal, melecehkan Nabi dan sebagainya. 

Uraian mengenai filsafat Islam di atas, dapat diinterpretasikan bahwa filsafat Islam itu erat kaitannya dengan pencarian kebenaran kemanusiaan yang bersumber pada al-Qur’an dan Sunnah, yang tidak meninggalkan indera, akal dan intuisi. Dalam Islam manusia berkedudukan sebagai khalifah Tuhan di bumi, oleh karena itu harus mamahami siapa dirinya, berada di mana, dan untuk apa dia ada. Memahami diri sebagai khalifah berarti ada keharusan untuk ikut dalam peroses pengawalan alam, dan menyadari sepenuhnya bahwa manusia berada di tengah-tengah makhluk kesemestaan lainnya (manusia sebagai sentral makhluk bumi). Kemudian karena manusia merupakan sentral makhluk kesemestaan, maka keberadaannya harus memberikan manfaat yang sebesarbesarnya bagi sesama manusia dan alam lingkungan lainnya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa filsafat dalam konteks kajian ini adalah sebagai pendekatan untuk menggali fungsi moral dan agama bagi kehidupan masyarakat, baik teoretis maupun praktis.

Penggunaan pendekatan kefilsafatan sebagaimana dimaksud di atas, agar nilai-nilai moral dan agama dapat dipahami sampai pada hakikatnya yang paling hakiki atau mendasar. Karena secara filsafati hanya pendekatan semacam itulah yang memungkinkan hakikat, fungsi moral dan agama dapat diketahui dan dipahami sebagaimana mestinya. Walaupun seperti telah disinggung sebelumnya bahwa masih banyak intelektual Muslim yang belum memahami apa, bagaimana dan untuk apa filsafat itu sesungguhnya. Bahkan masih ada intelektual Muslim yang berpandangan bahwa filsafat itu merupakan momok yang memusingkan, makhluk yang membosankan, terlalu teoretis, mengawangawang, dan bahkan mengkufurkan manusia (pandangan anti filsafat). Dalam rangka meluruskan pandangan yang miring terhadap filsafat semacam itu menurut Fazlur Rahman yang dikutip oleh Muhammad Muslih, bahwa filsafat itu sangat diperlukan untuk menerobos kemacetan dan jalan buntu yang dihadapi ilmu, baik keilmuan alam, sosial maupun humanitis, termasuk masalah-masalah keagamaan.5 Oleh karena itu Muhammad Muslih menekankan bahwa filsafat bagaimanapun adalah alat intelektual yang terus menerus diperlukan (filsafat sebagai pendekatan). Dikatakan demikian karena filsafat membiasakan akal pikiran untuk bersikap kritis-analitis dan mampu melahirkan ide-ide segar yang dibutuhkan dalam hidup manusia, maka filsafat menjadi alat yang sangat penting bagi intelektual dalam mengembangkan berbagai ilmu pengetahuan termasuk dalam agama dan teologi. 

Relevan dengan penjelasan di atas Zubaidi Mastal mengemukakan, berbagai problematika yang muncul kepermukaan, apabila tidak dipolakan dan ditampilkan dari pengkajian secara menyeluruh dan mendasar (filsafat), maka tetap akan memberikan atau menimbulkan citraan yang negatif, baik terhadap nilai-nilai moral dan agama, maupun terhadap fungsi dan tujuannya7. Demikian urgensinya filsafat menurut para pakar tersebut, yang sejatinya adalah untuk kepetingan kehidupan manusia, yaitu filsafat sebagai alat (pendekatan) dalam mengkaji dan menyelesaikan berbagai problem yang muncul dalam kehidupan manusia, khususnya bagi masyarakat kontemporer dewasa ini. 

Urgensi filsafat tidak hanya pada bidang ilmu pengetahuan, tetapi meliputi seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk permasalahan moral dan agama. Terlebih bagi masyarakat kontemporer yang tengah menghadapi permasalahan sangat kompleks, atau hampir pada setiap aspek kehidupan menghadapi problem yang harus diselesaikan.

 Dengan demikian dapat dipahami, bahwa urgensi filsafat adalah dalam rangka memformulasi dan mengaktualisasikan kembali nilai-nilai moral dan agama yang sudah terlalu lama berserakan dan ditinggalkan, sehingga dengan kajian filsafat diharapkan nilai-nilai tersebut dapat tumbuh subur dalam kehidupan praktis manusia, yang akhirnya kehidupan masyarakat komtemporer akan menjadi kuat dalam segala kreativitas dan aktivitas, karena selain berilmu pengetahuan yang luas, juga tidak terpisah atau bercerai dari moral dan agama. Oleh karena itu diharapkan dapat tampil para intelektual yang berkarakter kemanusiaan sejati dan tangguh dalam menghadapi berbagai tantangan yang terjadi dewasa ini, serta senantiasa mengutamakan ketinggian moralitas yang berdasarkan pada agama (Islam) secara komprehensif dan mendasar.