Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Perkenalkan nama saya Annida Fitriani seorang mahasiswa semester 3 jurusan Bimbingan Konseling Islam di UIN SMH Banten. Saya menulis ini sebagai tugas dari mata kuliah Filsafat Islam dan sebagai evaluasi belajar saya agar lebih baik dari sebelumnya.
Di catatan belajar #1 ini saya akan menceritakan perjalanan belajar saya untuk mata kuliah Filsafat Islam yang saya tidak sangka akan semenyenangkan ini saat mempelajarinya. Banyak hal yang membuka mata saya tentang filsafat yang saya tahu selalu dianggap sebelah mata oleh orang-orang. Dosen Filsafat saya yaitu Pak Ahmad Fadhil sangat pandai menjelaskan mata kuliah Filsafat Islam, dan sangat mudah untuk dimengerti oleh saya sendiri.
Banyak hal yang bisa dibahas tentang Filsafat Islam tapi kali ini saya hanya akan menjelaskan tentang Pengantar dari Filsafat Islam sendiri terutama hakikat dan urgensi filsafat.
Filsafat sering sekali dipandang sebagai pemikiran yang membingungkan bahkan menyesatkan umat manusia. Pandangan semacam ini tentunya sangat disayangkan, karena filsafat secara esensial justru sangat penting artinya bagi kehidupan manusia, khususnya dalam menyelesaikan berbagai persoalan kemanusiaan. Filsafat secara umum adalah berpikir secara menyeluruh, mendalam, radikal dan rasional, tentang sesuatu.
Syamsuddin Arif dan Dinar Dewi Kania, menegaskan bahwa dalam tradisi intelektual Islam, ditemukan beberapa istilah yang umum untuk filsafat. Antara lain, istilah hikmah, yang tampaknya dipakai untuk menimbulkan kesan bahwa filsafat bukanlah barang asing, akan tetapi berasal dan bermuara pada alQur’an.3 Kendati filsafat merupakan tradisi intelektual Islam, namun tidak sedikit yang berpandangan antipati dengan filsafat. Pandangan ini melihat filsafat sebagai barang import yang mengandung unsur-unsur ateisme, sekularisme, relativisme, pluralisme, dan liberalism. Paham-paham inilah sesungguhnya yang ditolak oleh para ulama Islam, yaitu filsafat yang menggiring pelakunya kepada sikap anti Tuhan, dan anti agama, mendewakan akal, melecehkan Nabi dan sebagainya.
Uraian mengenai filsafat Islam di atas, dapat diinterpretasikan bahwa filsafat Islam itu erat kaitannya dengan pencarian kebenaran kemanusiaan yang bersumber pada al-Qur’an dan Sunnah, yang tidak meninggalkan indera, akal dan intuisi. Dalam Islam manusia berkedudukan sebagai khalifah Tuhan di bumi, oleh karena itu harus mamahami siapa dirinya, berada di mana, dan untuk apa dia ada. Memahami diri sebagai khalifah berarti ada keharusan untuk ikut dalam peroses pengawalan alam, dan menyadari sepenuhnya bahwa manusia berada di tengah-tengah makhluk kesemestaan lainnya (manusia sebagai sentral makhluk bumi). Kemudian karena manusia merupakan sentral makhluk kesemestaan, maka keberadaannya harus memberikan manfaat yang sebesarbesarnya bagi sesama manusia dan alam lingkungan lainnya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa filsafat dalam konteks kajian ini adalah sebagai pendekatan untuk menggali fungsi moral dan agama bagi kehidupan masyarakat, baik teoretis maupun praktis.
Penggunaan pendekatan kefilsafatan sebagaimana dimaksud di atas, agar nilai-nilai moral dan agama dapat dipahami sampai pada hakikatnya yang paling hakiki atau mendasar. Karena secara filsafati hanya pendekatan semacam itulah yang memungkinkan hakikat, fungsi moral dan agama dapat diketahui dan dipahami sebagaimana mestinya. Walaupun seperti telah disinggung sebelumnya bahwa masih banyak intelektual Muslim yang belum memahami apa, bagaimana dan untuk apa filsafat itu sesungguhnya. Bahkan masih ada intelektual Muslim yang berpandangan bahwa filsafat itu merupakan momok yang memusingkan, makhluk yang membosankan, terlalu teoretis, mengawangawang, dan bahkan mengkufurkan manusia (pandangan anti filsafat). Dalam rangka meluruskan pandangan yang miring terhadap filsafat semacam itu menurut Fazlur Rahman yang dikutip oleh Muhammad Muslih, bahwa filsafat itu sangat diperlukan untuk menerobos kemacetan dan jalan buntu yang dihadapi ilmu, baik keilmuan alam, sosial maupun humanitis, termasuk masalah-masalah keagamaan.5 Oleh karena itu Muhammad Muslih menekankan bahwa filsafat bagaimanapun adalah alat intelektual yang terus menerus diperlukan (filsafat sebagai pendekatan). Dikatakan demikian karena filsafat membiasakan akal pikiran untuk bersikap kritis-analitis dan mampu melahirkan ide-ide segar yang dibutuhkan dalam hidup manusia, maka filsafat menjadi alat yang sangat penting bagi intelektual dalam mengembangkan berbagai ilmu pengetahuan termasuk dalam agama dan teologi.
Relevan dengan penjelasan di atas Zubaidi Mastal mengemukakan, berbagai problematika yang muncul kepermukaan, apabila tidak dipolakan dan ditampilkan dari pengkajian secara menyeluruh dan mendasar (filsafat), maka tetap akan memberikan atau menimbulkan citraan yang negatif, baik terhadap nilai-nilai moral dan agama, maupun terhadap fungsi dan tujuannya7. Demikian urgensinya filsafat menurut para pakar tersebut, yang sejatinya adalah untuk kepetingan kehidupan manusia, yaitu filsafat sebagai alat (pendekatan) dalam mengkaji dan menyelesaikan berbagai problem yang muncul dalam kehidupan manusia, khususnya bagi masyarakat kontemporer dewasa ini.
Urgensi filsafat tidak hanya pada bidang ilmu pengetahuan, tetapi meliputi seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk permasalahan moral dan agama. Terlebih bagi masyarakat kontemporer yang tengah menghadapi permasalahan sangat kompleks, atau hampir pada setiap aspek kehidupan menghadapi problem yang harus diselesaikan.
Dengan demikian dapat dipahami, bahwa urgensi filsafat adalah dalam rangka memformulasi dan mengaktualisasikan kembali nilai-nilai moral dan agama yang sudah terlalu lama berserakan dan ditinggalkan, sehingga dengan kajian filsafat diharapkan nilai-nilai tersebut dapat tumbuh subur dalam kehidupan praktis manusia, yang akhirnya kehidupan masyarakat komtemporer akan menjadi kuat dalam segala kreativitas dan aktivitas, karena selain berilmu pengetahuan yang luas, juga tidak terpisah atau bercerai dari moral dan agama. Oleh karena itu diharapkan dapat tampil para intelektual yang berkarakter kemanusiaan sejati dan tangguh dalam menghadapi berbagai tantangan yang terjadi dewasa ini, serta senantiasa mengutamakan ketinggian moralitas yang berdasarkan pada agama (Islam) secara komprehensif dan mendasar.

0 komentar:
Posting Komentar