Get me outta here!

Sabtu, 26 Desember 2020

LAPORAN AKHIR BELAJAR MANDIRI FILSAFAT ISLAM

LAPORAN AKHIR CATATAN BELAJAR

FILSAFAT ISLAM

OLEH ANNIDA FITRIANI

(191520022)

1.      Pendahuluan

Pembelajaran jarak jauh yang diterapkan semua sekolah dan universitas di seluruh Indonesia dikarenakan pandemic Covid-19 yang kasusnya terus meningkat menyebabkan mahasiswa dan pelajar mengharuskan menjalani pembelajaran jarak jauh. Tak terkecuali saya sebagai mahasiswa UIN SMH Banten, banyak kesulitan yang saya rasakan selama menjalani pembelajaran jarak jauh ini tapi saya dengan cepat beradaptasi agar bisa menjalani pembelajaran dengan baik.

Salah satu mata kuliah yang menjalani kuliah online adalah Filsafat Islam, banyak yang dapat saya pelajari dari mata kuliah ini, dengan menggunakan media pertemuan online seperti Google Meet, Zoom dan Facebook pembelajaran mata kuliah filsafat islam dapat dengan baik kami pelajari. Jadi inilah laporan akhir catatan belajar saya dari mata kuliah filsafat islam.

2.      Pengalaman saat belajar mandiri pada mata kuliah filsafat islam

A.    Alasan memilih tema

Tema yang saya ambil untuk catatan belajar mandiri saya yaitu Hakikat dan Urgensi Filsafat Islam, Manusia dalam Ilmu Filsafat dam Filsafat Peripatetisme. Alasan saya mengambil tema-tema tersebut secara umum adalah pentingnya filsafat untuk dipelajari, filsafat selalu dianggap sebagai ilmu yang menyesatkan padahal jika kita mempelajarinya dengan baik filsafat adalah ilmu yang membuat manusia lebih berpikir tentang segala eksistensi semua zat di dunia ini.

Dan alasan saya memilih tema yang pertama yaitu hakikat dan urgensi filsafat karna awal memperlajari filsafat saya bertanya-tanya apakah sebenarnya dasar ilmu filsafat itu dan apakah hal yang menjadi urgensi dari ilmu filsafat, maka dari ini saya memilih tema ini.

Alasan saya memilih tema yang kedua, manusia dalam ilmu filsafat yaitu setelah saya mempelajari hakikat dan urgensi filsafat, saya bertanya-tanya bagaimana arti manusia menurut ilmu filsafat.

Dan alasan terakhir saya mengambil Filfasat Peripatetisme sebagai tema ketiga adalah karena Filfasat Peripatetisme menjadi metode pengajaran filsafat yang diajarkan oleh Ibnu Sina.

B.     Target Belajar

Target belajar saya dalam membuat catatan belajar mandiri ini adalah agar saya lebih mandiri dan sadar pentingnya belajar mandiri dan mengusai tema yang saya pilih

C.     Sumber Belajar

Sumber belajar yang saya pakai yaitu jurnal-jurnal, referensi buku, dan web pendidikan yang terpercaya.

3.      Pengetahuan baru dari belajar mandiri pada mata kuliah Filsafat Islam

A.    TEMA 1 (Hakikat dan Urgensi Filsafat)

Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang berupaya mengkaji tentang masalah-masalah yang muncul dan berkenaan dengan segala sesuatu, baik yang sifatnya materi maupun immateri secara sungguh-sungguh guna menemukan hakikat sesuatu yang sebenarnya, mencari prinsip-prinsip kebenaran, serta berpikir secara rasional logis, mendalam dan bebas, sehingga dapat dimanfaatkan untuk  membantu menyelesaikan masalah-masalah dalam kehidupan manusia.

Filsafat sering sekali dipandang sebagai pemikiran yang membingungkan bahkan menyesatkan umat manusia. Pandangan semacam ini tentunya sangat disayangkan, karena filsafat secara esensial justru sangat penting artinya bagi kehidupan manusia, khususnya dalam menyelesaikan berbagai persoalan kemanusiaan. Filsafat secara umum adalah berpikir secara menyeluruh, mendalam, radikal dan rasional, tentang sesuatu.

Dari jurnal yang saya baca dengan judul Urgensi Filsafat Dalam Kehidupan Masyarakat Kontemporer susunan Himyari Yusuf menjelaskan bahwa filsafat Islam itu erat kaitannya dengan pencarian kebenaran kemanusiaan yang bersumber pada al-Qur’an dan Sunnah, yang tidak meninggalkan indera, akal dan intuisi. Dalam Islam manusia berkedudukan sebagai khalifah Tuhan di bumi, oleh karena itu harus mamahami siapa dirinya, berada di mana, dan untuk apa dia ada. Memahami diri sebagai khalifah berarti ada keharusan untuk ikut dalam peroses pengawalan alam, dan menyadari sepenuhnya bahwa manusia berada di tengah-tengah makhluk kesemestaan lainnya (manusia sebagai sentral makhluk bumi). Kemudian karena manusia merupakan sentral makhluk kesemestaan, maka keberadaannya harus memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi sesama manusia dan alam lingkungan lainnya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa filsafat dalam konteks kajian ini adalah sebagai pendekatan untuk menggali fungsi moral dan agama bagi kehidupan masyarakat, baik teoretis maupun praktis.

Penggunaan pendekatan kefilsafatan adalah  agar nilai-nilai moral dan agama dapat dipahami sampai pada hakikatnya yang paling hakiki atau mendasar. Karena secara filsafati hanya pendekatan semacam itulah yang memungkinkan hakikat, fungsi moral dan agama dapat diketahui dan dipahami sebagaimana mestinya. Walaupun seperti telah disinggung sebelumnya bahwa masih banyak intelektual Muslim yang belum memahami apa, bagaimana dan untuk apa filsafat itu sesungguhnya. Bahkan masih ada intelektual Muslim yang berpandangan bahwa filsafat itu merupakan momok yang memusingkan, makhluk yang membosankan, terlalu teoretis, mengawangawang, dan bahkan mengkufurkan manusia (pandangan anti filsafat). Dalam rangka meluruskan pandangan yang miring terhadap filsafat semacam itu menurut Fazlur Rahman yang dikutip oleh Muhammad Muslih, bahwa filsafat itu sangat diperlukan untuk menerobos kemacetan dan jalan buntu yang dihadapi ilmu, baik keilmuan alam, sosial maupun humanitis, termasuk masalah-masalah keagamaan.5 Oleh karena itu Muhammad Muslih menekankan bahwa filsafat bagaimanapun adalah alat intelektual yang terus menerus diperlukan (filsafat sebagai pendekatan). Dikatakan demikian karena filsafat membiasakan akal pikiran untuk bersikap kritis-analitis dan mampu melahirkan ide-ide segar yang dibutuhkan dalam hidup manusia, maka filsafat menjadi alat yang sangat penting bagi intelektual dalam mengembangkan berbagai ilmu pengetahuan termasuk dalam agama dan teologi. 

Relevan dengan penjelasan di atas Zubaidi Mastal mengemukakan, berbagai problematika yang muncul kepermukaan, apabila tidak dipolakan dan ditampilkan dari pengkajian secara menyeluruh dan mendasar (filsafat), maka tetap akan memberikan atau menimbulkan citraan yang negatif, baik terhadap nilai-nilai moral dan agama, maupun terhadap fungsi dan tujuannya7. Demikian urgensinya filsafat menurut para pakar tersebut, yang sejatinya adalah untuk kepetingan kehidupan manusia, yaitu filsafat sebagai alat (pendekatan) dalam mengkaji dan menyelesaikan berbagai problem yang muncul dalam kehidupan manusia, khususnya bagi masyarakat kontemporer dewasa ini. 

Urgensi filsafat tidak hanya pada bidang ilmu pengetahuan, tetapi meliputi seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk permasalahan moral dan agama. Terlebih bagi masyarakat kontemporer yang tengah menghadapi permasalahan sangat kompleks, atau hampir pada setiap aspek kehidupan menghadapi problem yang harus diselesaikan.

Dengan demikian dapat dipahami, bahwa urgensi filsafat adalah dalam rangka memformulasi dan mengaktualisasikan kembali nilai-nilai moral dan agama yang sudah terlalu lama berserakan dan ditinggalkan, sehingga dengan kajian filsafat diharapkan nilai-nilai tersebut dapat tumbuh subur dalam kehidupan praktis manusia, yang akhirnya kehidupan masyarakat komtemporer akan menjadi kuat dalam segala kreativitas dan aktivitas, karena selain berilmu pengetahuan yang luas, juga tidak terpisah atau bercerai dari moral dan agama. Oleh karena itu diharapkan dapat tampil para intelektual yang berkarakter kemanusiaan sejati dan tangguh dalam menghadapi berbagai tantangan yang terjadi dewasa ini, serta senantiasa mengutamakan ketinggian moralitas yang berdasarkan pada agama (Islam) secara komprehensif dan mendasar.

 

B.     TEMA 2 (Manusia dalam Ilmu Filsafat)

Manusia adalah makhluk yang berakal budi dan mampu menguasai makhluk lain, atau makhluk yang bisa berpikir dan mengembangkan pemikirannya. Sebagai binatang yang mampu berpikir bahwa manusia berbeda dengan binatang. Meskipun fungsi tubuh dan fisiologis manusia pada dasarnya sama dengan hewan, namun hewan lebih mengandalkan fungsi hewan, yaitu naluri dan pola tingkah lakunya yang unik. Semakin tinggi tingkat perkembangan hewan dan semakin fleksibel cara kerjanya, semakin kurang lengkap penyesuaian struktural yang harus dilakukan saat lahir.

 

Seperti yang saya baca di tulisan Komposiana.com menjelaskan bahwa Manusia menyadari bahwa dirinya sangat berbeda dari binatang apa pun. Tetapi memahami siapa sebenarnya manusia itu bukan persoalan yang mudah. Ini terbukti dari pembahasan manusia tentang dirinya sendiri yang telah berlangsung demikian lama. Barangkali sejak manusia diberi kemampuan berpikir secara sistematik, pertanyaan tentang siapakah dirinya itu mulai timbul. Namun informasi secara tertulis tentang hal ini baru terlacak pada masa Para pemikir kuno Romawi yang konon dimulai dari Thales (abad 6 SM).

Saya menemukansebuah artikel yang menjelaskan istilah-istilah dalam al-Qur’an yang menjelaskan manusia yaitu : al-Insan, al-Basyar dan Banu Adam.

1. Sebagian ulama berpendapat, al-Insan diambil dari kata nasiya-yansa nasyan yang berarti lupa, maksudnya manusia sering melupakan janjinya kepada Tuhan.

2. Al-Insan diambil dari kata nasa-yanusu yang berarti bergoncang

3. Al-Insan diambil dari kata ins yang berarti jinak.

REFERENSI : MANUSIA DALAM PERSPEKTIF FILSAFAT (uin-malang.ac.id)

Al-Basayar berarti tampak baik dan indah, gembira, menguliti. Sebanyak 123 x kata al-Basyar disebut dalam al-Al-Qur’an pada umumnya bermakna gembira, 37 x bermakna manusia dan 2 x berkaitan dengan hubungan seks. Kata al-Insan mengandung pengertian manusia sebagai makhluk sosial dan kultural/keilmuan. Al-Basyar mengandung pengertian realitas manusia sebagai pribadi yang kongkret, manusia dewasa yang sedang memasuki kehidupan bertanggung jawab sebagai khalifah di bumi (A. Mu’in, 1994:81). Manusia terdiri dari jiwa dan raga. Dia adalah unik. Tidak ada makhluk seunik dan seajaib seperti manusia. Manusialah yang mampu menguasai alam semesta ini. Binatang sebuas apapun dengan kreativitas akalnya bisa ditaklukkan. Dialah manusia ajaib.  

Berikut pandangan filsafat terhadap manusia dari beberapa sudut pandang yakni dari:

Teori descendensi, Teori ini meletakkan manusia sejajar dengan hewan berdasarkan sebab mekanis. Artinya manusia tidaklah jauh berbeda dengan hewan, dimana manusia termasuk hewan yang berfikir, melakukan segala aktivitas hidupnya, manusia juga tidak beda dengan binatang yang menyusui.

Beberapa ahli filsafat berbeda pemikiran dalam mendefinisikan manusia. Manusia adalah makhluk yang concerned (menaruh minat yang besar) terhadap hal-hal yang berhubungan dengannya, sehingga tidak ada henti-hentinya selalu bertanya dan berpikir.

Untuk menjadi manusia sempurna haruslah memiliki unsur-unsur sebagai berikut :

a.       Rasionalitas

b.      Kesadaran

c.       Akal budi

d.      Spiritualitas

e.       Moralitas

f.       Sosialitas

g.      Keselarasan dengan alam

 

C.     TEMA 3 (Filsafat Peripatetisme)

Filsafat Peripatetisme atau disebut juga al-Falsafah al-Masysya’iyyah. Apa itu filsafat peripatetisme? Setelah mencari dari berbagai jurnal dan sumber-sumber di internet, akhirnya saya bisa menyimpulkan bahwa istilah perapatetisme berasal dari bahasa Yunani yaitu peripatein yang artinya berkeliling dan peripatos yaitu beranda serta isme yang berarti aliran. Berarti peripatetisme bisa berarti “Ia yang berjalan mengelilingi”. Arti ini merujuk pada Aristoteles yang selalu berjalan-jalan mengelilingi muridnya ketika Ia mengajar filsafat. Dalam Bahasa Arab, kata peripatetisme ini dikenal dengan istilah masysya’i yaitu berjalan berputar. Dan alirannya disebut masysya’iyyah.

Jadi peripatetisme adalah sebuah aliran filsafat yang menerapkan metode yang pernah digunakan oleh Aristoteles kepada muridnya yaitu dengan berjalan-jalan dan mengililinginya.

Dalam filsafat Islam, aliran masysya’iyyah pertama kali dikenalkan oleh al-Farabi yang dijuluki sebagai guru kedua (almuallimu tsani). Dan mencapai puncaknya secara sempurna dan besar-besaran pada masa Ibnu Sina yang mempunyai gelar al-Syekh al-Ra’is, yaitu guru besar dan sang pemimpin. Dan karena keduanya, filsafat memperoleh eksistensinya di agama Islam.

Hidup Ibnu Sina

Menurut jurnal yang saya baca dengan judul “Agama dan Filsafat Dalam Pemikiran Ibnu Sina” menjelaskan bahwa Ibnu Sina dilahirkan di kampung Afsyanah, dekat dengan kawasan Bukhara pada tahun 370 H atau 980 M. Nama lengkapnya adalah Abu Ali al-Husein ibn Abdulah Ibn Sina. Ia seorang al-hakim al-masyhur atau filosof yang sangat terkenal hingga diberikan gelar al-Syeikh al-Ra’is.

Pada usianya yang ke sepuluh, Ia sudah hafal al-Qur’an, sastra, dan dapat menghafal beberapa pokok agama Islam,  matematika dan debat. Kemudian menginjak usia enam belas tahun, Ia telah dikenal sebagai dokter yang ahli dalam berbagai macam penyakit. Dua tahun setelahnya Ia telah menguasai filsafat dan berbagai ilmu pengetahuan seperti matematika, astronomi, musik, mistik, bahasa dan ilmu hukum islam. Namanya pun semakin terkenal dalam dunia kedokteran, terutama setelah Ia mampu menyembuhkan penyakit yang diderita oleh Sultan Bukhara yang imbalannya Ia diberi hadiah perpustakaan pribadinya yang berisi buku-buku yang jarang ada di perpustakaan lainnya.

Ia memiliki kesungguhan yang luar biasa dalam mencari ilmu dan bekerja. Pada saat siang, Ia mencari nafkah dan pada malam hari, Ia bertafakur. Ia selalu berdoa, beribadah, dan membaca. Pernah juga dikatakan bahwa Ibnu Sina pernah membaca selama empat puluh kali buku metafisika karangan Aristoteles, tetapi Ia tidak memahaminya. Lalu Ia membaca buku karangan al-Farabi yang Ia dapatkan dari pedagang yang menjual buku bekas dengan harga murah. Dengan mudah, akhirnya Ia dapat memahami buku Aristoteles dan menghafal isinya.

Karya Ibnu Sina

Masih dari jurnal yang sama, karya Ibnu Sina juga dijelaskan di dalamnya. Beliau memiliki karya yang sangat banyak serta kelengkapan risalahnya jauh melampaui risalah manapun. Seorang sarjana Dominican telah menyusun daftar kitab-kitab dari 276 tulisan dalam bentuk buku ataupun manuskrip. Dan diantaranya, buku-buku yang terkenal adalah:

1.      Kitab Asy-Syifa. Sebuah tulisan tentang filsafat yang dibagi dari empat bagian, yaitu: mantik, matematika, fisika, dan metafisika. Kitab ini sangat tebal dan terdiri dari delapan belas jilid. Dengan kitab ini, Ibnu Sina telah memperoleh keuddukan yang sangat tinggi baik di dunia timur maupun barat. Kitab ini adalah eskiklopedia studi Islam Yunani pada abad ke 11 yang Ia susun dari logika sampai matematika dan metafisika.

2.      Kitab Al-Najat. Adalah ringkasan kitab Al-Syifa yang lebih banyak dibaca daripada al-Syifa itu sendiri. Dan ditulis untuk orang-orang terpelajar yang ingin mengetahui dan memahami dengan lengkap dasar-dasar ilmu hikmah. Buku ini dicetak pertama kali pada tahun 1331 M di Mesir.

3.      Kitab al-Qanun fi al-Thibb (Qanon of Medice), terdiri dari lima bagian, telah diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa Eropa dan menjadi literatur pokok di berbagai universitas di Eropa sampai akhir abad ke-17. Hingga kini masih menjadi manuskrip di bidang kedokteran.

4.      Kitab al-Isyarat wa al-tanbihat. Ini merupakan kitab terakhir yang ditulis Ibnu Sina. Buku yang paling indah dalam ilmu hikmah. Isinya mengandung berbagai mutiara dari ahli pikir dan rahasia yang sangat berharga.

Dari karya-karya ini, ajaran filsafat Peripatetisme diterapkan oleh Ibnu Sina. Sebagai penekunnya, Ibnu Sina dapat menguasai, memahami, dan mengaplikasikan ilmunya secara tepat. Dan dapat meraih pengetahuan yang benar.

Gagasan Ibnu Sina

Mencari jurnal dan referensi lainnya, akhirnya saya menemukan jurnal yang berjudul “Ibnu Sina: Pemikiran Filsafatnya Tentang Al-Fayd, Al-Nafs, Al-Nubuwwah, dan Al-Wujud” untuk mengetahui tentang gagasan dan pemikiran Ibnu Sina. Dan masih membaca dari jurnal sebelumnya, saya dapat menyimpulkan bahwa menurut Ibnu Sina, falsafah dibagi menjadi dua bagian yaitu ilmu teoritis atau hikmah nadzariyah dan ilmu praktis atau ‘Amaliyah.

1.      Teori Ontologi Ibnu Sina

Filsafat Ibnu Sina menandai puncak filsafat paripatetik Islam yang didasarkan pada ontologi. Sehingga Ibnu Sina juga disebut sebagai filosof wujud. Menurutnya ada tiga hukum untuk membedakan wujud murni dengan eksistensi dunia.

Pertama, al-wajib al-wujud, adalah realitas yang harus ada dan tidak bisa tidak ada. Hanya ada satu yakni eksistensi Tuhan.

Kedua, al-Munkin al-Wujud, yakni transedensi rantai wujud dan tatanan eksistensi cosmis dan dunia yang bersifat pluralistis adlah tergantung pada al-wajib al-wujud.

Ketiga, al-Muntani’ al-wujud, yaitu wujud yang tidak mungkin.

2.      Filsafat Emanasi (al-Fayd) dan Kosmologi Ibnu Sina

Filsafat emanasi dalam teologi dan falsafah Islam bermaksud untuk memurnikan tauhid. Emanasi adalah teori tentang keluarnya suatu Wujud Mumkin (alam makhluk) dari zat yang Wajib al-Wujud. Teori ini juga disebut sebagai teori urut-urutan wujud. Pada dasarnya adalah pengeluaran akal-akal. Akal pertama, berta’aqqul mengeluarkan akal kedua, disampingnya juga mengeluarkan wujud yang lain.

3.      Filsafat Jiwa Ibnu Sina (al-Nafs)

Jiwa sebagai prinsip kehidupan, merupakan sebuah pancaran (emanasi) dari akal kecerdasan aktif. Ibnu Sina membagi jiwa menjadi tiga bagian, yaitu Jiwa nabati (ruh nabati), ia mempunyai daya makan, tumbuh, dan berkembang biak. Kedua, jiwa binatang (ruh Haywani) yang mempunyai daya gerak pindah dari satu tempat ketempat yang lain dan daya menangkap dengan panca indra. Ketiga, jiwa manusia (ruh Insani) mempunyai satu daya yaitu berpikir yang disebut akal.

4.      Filsafat Kenabian (al-Nubuwwah)

Ada empat tingkatan rasionalitas, yang terendah adalah rasionalitas material (al-'aqlalhayûlâni). Terkadang Tuhan akan memberi manusia hikmah materi yang maha kuasa dan sakti, menurut Ibnu Sina (Ibnu Sina), itu diberi nama "alhads". Kekuatan dalam pemikiran material ini begitu kuat sehingga mudah untuk berhubungan dengan "kecerdasan aktif" tanpa pelatihan, dan mudah untuk mendapatkan cahaya atau pencerahan dari Tuhan. Kecerdasan seperti ini memiliki kekuatan kesucian (quwwah qadasiyyah) yang merupakan bentuk nalar tertinggi yang dapat diperoleh umat manusia, namun nalar semacam ini hanya dapat ditemukan pada para nabi.

 

Dari semua materi yang sudah saya baca dari berbagai jurnal dan referensi, dapat disimpulkan bahwa Peripatetisme adalah sebuah metode dalam pengajaran dan pemahaman filsafat. Dalam dunia islam, ini disebut sebagai al-Falsafah al-Masysya’iyyah. Dan Ibnu Sina adalah pemimpin dan guru besar yang mencapai puncaknya secara sempurna dengan menggunakan Peripatetisme sehingga dapat menguasai, memahami, dan mengaplikasikan ilmunya secara tepat. Dan dapat meraih pengetahuan yang benar. Sehingga Ibnu Sina dapat melahirkan karya-karya terkenal dan gagasan-gagasannya yang tepat dan luar biasa serta masih menjadi sebuah literatur pokok hingga kini.

Referensi

Ibrahim. (2016). Sinergi Akal dan Wahyu Dalam Filsafat Peripatetisme Islam: Jurnal Aqidah. 2 (1), 1-10.

Nur, Abdullah. (2009). Ibnu Sina: Pemikiran Filsafatnya Tentang Al-Fayd, Al-Nafs, Al-Nubuwwah, dan Al-Wujud: Jurnal Hunafa. 6 (1), 105-116.

Gozali, Mukhtar. (2016). Agama dan Filsafat Dalam Pemikiran Ibnu Sina: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam. 1 (2), 22-36.

PENUTUP

Alhamdulillah, selesai sudah laporan catatan belajar mandiri Filsafat Islam. Semoga catatan ini berguna untuk para pembaca dan terutama untuk saya sendiri. Terimakasih untuk semua pihak yang telah membantu saya menyelesaikan laporan ini, semoga semua orang diberi keberkahan oleh Allah di tahun 2021 nanti, aamiin.


Selasa, 01 Desember 2020

Resume | Kitab at-Tahshil ; Bahmanyar, Logika dan Filsafat

 


Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Nama saya Annida Fitriani, seorang mahasiswa semester 3 jurusan BKI di UIN SMH Banten. Kemarin tanggal 1 Desember 2020 saya mengikuti sebuah Webinar berjudul Ngopilsafat Kitab al-Tahshil: Bahmanyar, Logika dan Filsafat. Banyak ilmu seputar filsafat yang dapat diambil dari materi webinar ini, maka dari itu saya membuat resume materi tersebut disini.

Kitab at-Tahshil adalah kitab yang membahas tentang filsafat yang dimiliki oleh seorang murid Ibnu Sina yaitu Bah Manyar atau Ibnu Marzuban. Kitab at-Tahshil membahas banyak hal seperti yang berhubungan dengan logika, filsafat, dan metafisika. 

Bah Manyar sangat mengagumi sosok Ibnu Sina, Ibnu Sina juga berjanji akan mengajarkan Bah Manyar dan mengangkatnya menjadi murid. Bah Manyar adalah murid yang cerdas sejak kecil, maka dari itu Ibnu Sina sangat menyukainya. 

Kekaguman Bah Manyar kepada Ibnu Sina makin membesar ketika Ibnu Sina berkata "Barang siapa yang kehilangan satu indra maka dia akan kehilangan satu ilmu pengetahuan" yang berarti pengetahuan sama dengan tubuh yang jika salah satu anggota tubuh menghilang makan pengetahuan yang dapat kita ambilpun menghilang. Jika tubuh kita lengkap dan sehat maka pengetahuan yang dapat dipelajaripun bertambah banyak. 

Bah Manyar mempelajari Filsafat dengan tujuan untuk mengetahui realitas. Dengan pikiran yang realistis Bah Manyar semakin mendalami ilmu-ilmu filsafat. Seperti definisi dari kata "ada" yang bisa berarti sesuatu yang dapat terlihat maupun yang dapat dilihat. Banyak definisi yang menjelaskan apa arti dari kata ada itu sendiri tapi itu hanyalah opini perspektif dari individu masing-masing. 

Sekian yang saya rangkum dari Webinar Ngopilsafat kemarin, semoga bermanfaat. 

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.