LAPORAN
AKHIR CATATAN BELAJAR
FILSAFAT
ISLAM
OLEH
ANNIDA FITRIANI
(191520022)
1.
Pendahuluan
Pembelajaran jarak jauh yang diterapkan semua
sekolah dan universitas di seluruh Indonesia dikarenakan pandemic Covid-19 yang
kasusnya terus meningkat menyebabkan mahasiswa dan pelajar mengharuskan
menjalani pembelajaran jarak jauh. Tak terkecuali saya sebagai mahasiswa UIN
SMH Banten, banyak kesulitan yang saya rasakan selama menjalani pembelajaran
jarak jauh ini tapi saya dengan cepat beradaptasi agar bisa menjalani
pembelajaran dengan baik.
Salah satu mata kuliah yang menjalani kuliah online
adalah Filsafat Islam, banyak yang dapat saya pelajari dari mata kuliah ini,
dengan menggunakan media pertemuan online seperti Google Meet, Zoom dan
Facebook pembelajaran mata kuliah filsafat islam dapat dengan baik kami
pelajari. Jadi inilah laporan akhir catatan belajar saya dari mata kuliah
filsafat islam.
2. Pengalaman
saat belajar mandiri pada mata kuliah filsafat islam
A. Alasan
memilih tema
Tema yang saya ambil untuk catatan belajar mandiri
saya yaitu Hakikat dan Urgensi Filsafat Islam, Manusia dalam Ilmu Filsafat dam
Filsafat Peripatetisme. Alasan saya mengambil tema-tema tersebut secara umum adalah
pentingnya filsafat untuk dipelajari, filsafat selalu dianggap sebagai ilmu yang
menyesatkan padahal jika kita mempelajarinya dengan baik filsafat adalah ilmu
yang membuat manusia lebih berpikir tentang segala eksistensi semua zat di
dunia ini.
Dan alasan saya memilih tema yang pertama yaitu
hakikat dan urgensi filsafat karna awal memperlajari filsafat saya
bertanya-tanya apakah sebenarnya dasar ilmu filsafat itu dan apakah hal yang
menjadi urgensi dari ilmu filsafat, maka dari ini saya memilih tema ini.
Alasan saya memilih tema yang kedua, manusia dalam
ilmu filsafat yaitu setelah saya mempelajari hakikat dan urgensi filsafat, saya
bertanya-tanya bagaimana arti manusia menurut ilmu filsafat.
Dan alasan terakhir saya mengambil Filfasat
Peripatetisme sebagai tema ketiga adalah karena Filfasat Peripatetisme menjadi
metode pengajaran filsafat yang diajarkan oleh Ibnu Sina.
B. Target
Belajar
Target
belajar saya dalam membuat catatan belajar mandiri ini adalah agar saya lebih
mandiri dan sadar pentingnya belajar mandiri dan mengusai tema yang saya pilih
C. Sumber
Belajar
Sumber
belajar yang saya pakai yaitu jurnal-jurnal, referensi buku, dan web pendidikan
yang terpercaya.
3. Pengetahuan
baru dari belajar mandiri pada mata kuliah Filsafat Islam
A. TEMA
1 (Hakikat dan Urgensi Filsafat)
Filsafat
adalah ilmu pengetahuan yang berupaya mengkaji tentang masalah-masalah yang
muncul dan berkenaan dengan segala sesuatu, baik yang sifatnya materi maupun
immateri secara sungguh-sungguh guna menemukan hakikat sesuatu yang sebenarnya,
mencari prinsip-prinsip kebenaran, serta berpikir secara rasional logis, mendalam
dan bebas, sehingga dapat dimanfaatkan untuk membantu menyelesaikan
masalah-masalah dalam kehidupan manusia.
Filsafat
sering sekali dipandang sebagai pemikiran yang membingungkan bahkan menyesatkan
umat manusia. Pandangan semacam ini tentunya sangat disayangkan, karena
filsafat secara esensial justru sangat penting artinya bagi kehidupan manusia,
khususnya dalam menyelesaikan berbagai persoalan kemanusiaan. Filsafat secara
umum adalah berpikir secara menyeluruh, mendalam, radikal dan rasional, tentang
sesuatu.
Dari jurnal
yang saya baca dengan judul Urgensi Filsafat Dalam Kehidupan Masyarakat Kontemporer
susunan Himyari Yusuf menjelaskan bahwa filsafat Islam itu erat kaitannya
dengan pencarian kebenaran kemanusiaan yang bersumber pada al-Qur’an dan Sunnah,
yang tidak meninggalkan indera, akal dan intuisi. Dalam Islam manusia
berkedudukan sebagai khalifah Tuhan di bumi, oleh karena itu harus mamahami
siapa dirinya, berada di mana, dan untuk apa dia ada. Memahami diri sebagai
khalifah berarti ada keharusan untuk ikut dalam peroses pengawalan alam, dan
menyadari sepenuhnya bahwa manusia berada di tengah-tengah makhluk kesemestaan
lainnya (manusia sebagai sentral makhluk bumi). Kemudian karena manusia
merupakan sentral makhluk kesemestaan, maka keberadaannya harus memberikan
manfaat yang sebesar-besarnya bagi sesama manusia dan alam lingkungan lainnya.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa filsafat dalam konteks kajian ini adalah
sebagai pendekatan untuk menggali fungsi moral dan agama bagi kehidupan masyarakat,
baik teoretis maupun praktis.
Penggunaan
pendekatan kefilsafatan adalah agar
nilai-nilai moral dan agama dapat dipahami sampai pada hakikatnya yang paling
hakiki atau mendasar. Karena secara filsafati hanya pendekatan semacam itulah
yang memungkinkan hakikat, fungsi moral dan agama dapat diketahui dan dipahami
sebagaimana mestinya. Walaupun seperti telah disinggung sebelumnya bahwa masih
banyak intelektual Muslim yang belum memahami apa, bagaimana dan untuk apa
filsafat itu sesungguhnya. Bahkan masih ada intelektual Muslim yang
berpandangan bahwa filsafat itu merupakan momok yang memusingkan, makhluk yang
membosankan, terlalu teoretis, mengawangawang, dan bahkan mengkufurkan manusia
(pandangan anti filsafat). Dalam rangka meluruskan pandangan yang miring
terhadap filsafat semacam itu menurut Fazlur Rahman yang dikutip oleh Muhammad
Muslih, bahwa filsafat itu sangat diperlukan untuk menerobos kemacetan dan
jalan buntu yang dihadapi ilmu, baik keilmuan alam, sosial maupun humanitis,
termasuk masalah-masalah keagamaan.5 Oleh karena itu Muhammad Muslih menekankan
bahwa filsafat bagaimanapun adalah alat intelektual yang terus menerus
diperlukan (filsafat sebagai pendekatan). Dikatakan demikian karena filsafat
membiasakan akal pikiran untuk bersikap kritis-analitis dan mampu melahirkan
ide-ide segar yang dibutuhkan dalam hidup manusia, maka filsafat menjadi alat
yang sangat penting bagi intelektual dalam mengembangkan berbagai ilmu
pengetahuan termasuk dalam agama dan teologi.
Relevan
dengan penjelasan di atas Zubaidi Mastal mengemukakan, berbagai problematika
yang muncul kepermukaan, apabila tidak dipolakan dan ditampilkan dari
pengkajian secara menyeluruh dan mendasar (filsafat), maka tetap akan
memberikan atau menimbulkan citraan yang negatif, baik terhadap nilai-nilai
moral dan agama, maupun terhadap fungsi dan tujuannya7. Demikian urgensinya
filsafat menurut para pakar tersebut, yang sejatinya adalah untuk kepetingan
kehidupan manusia, yaitu filsafat sebagai alat (pendekatan) dalam mengkaji dan
menyelesaikan berbagai problem yang muncul dalam kehidupan manusia, khususnya
bagi masyarakat kontemporer dewasa ini.
Urgensi
filsafat tidak hanya pada bidang ilmu pengetahuan, tetapi meliputi seluruh
aspek kehidupan manusia, termasuk permasalahan moral dan agama. Terlebih bagi
masyarakat kontemporer yang tengah menghadapi permasalahan sangat kompleks,
atau hampir pada setiap aspek kehidupan menghadapi problem yang harus
diselesaikan.
Dengan
demikian dapat dipahami, bahwa urgensi filsafat adalah dalam rangka memformulasi
dan mengaktualisasikan kembali nilai-nilai moral dan agama yang sudah terlalu
lama berserakan dan ditinggalkan, sehingga dengan kajian filsafat diharapkan
nilai-nilai tersebut dapat tumbuh subur dalam kehidupan praktis manusia, yang
akhirnya kehidupan masyarakat komtemporer akan menjadi kuat dalam segala
kreativitas dan aktivitas, karena selain berilmu pengetahuan yang luas, juga
tidak terpisah atau bercerai dari moral dan agama. Oleh karena itu diharapkan
dapat tampil para intelektual yang berkarakter kemanusiaan sejati dan tangguh
dalam menghadapi berbagai tantangan yang terjadi dewasa ini, serta senantiasa
mengutamakan ketinggian moralitas yang berdasarkan pada agama (Islam) secara
komprehensif dan mendasar.
B. TEMA 2 (Manusia dalam Ilmu Filsafat)
Manusia adalah makhluk yang berakal budi dan mampu menguasai makhluk lain, atau makhluk yang bisa berpikir dan mengembangkan pemikirannya. Sebagai
binatang yang mampu berpikir bahwa manusia berbeda dengan binatang. Meskipun
fungsi tubuh dan fisiologis manusia pada dasarnya sama dengan hewan, namun
hewan lebih mengandalkan fungsi hewan, yaitu naluri dan pola tingkah lakunya
yang unik. Semakin tinggi tingkat perkembangan hewan dan semakin fleksibel cara
kerjanya, semakin kurang lengkap penyesuaian struktural yang harus dilakukan
saat lahir.
Seperti yang
saya baca di tulisan Komposiana.com menjelaskan bahwa Manusia menyadari bahwa
dirinya sangat berbeda dari binatang apa pun. Tetapi memahami siapa sebenarnya
manusia itu bukan persoalan yang mudah. Ini terbukti dari pembahasan manusia
tentang dirinya sendiri yang telah berlangsung demikian lama. Barangkali sejak
manusia diberi kemampuan berpikir secara sistematik, pertanyaan tentang
siapakah dirinya itu mulai timbul. Namun informasi secara tertulis tentang hal
ini baru terlacak pada masa Para pemikir kuno Romawi yang konon dimulai dari
Thales (abad 6 SM).
Saya menemukansebuah artikel yang menjelaskan istilah-istilah dalam al-Qur’an yang menjelaskan manusia yaitu : al-Insan, al-Basyar dan Banu Adam.
1. Sebagian ulama berpendapat, al-Insan diambil dari kata nasiya-yansa nasyan yang berarti lupa, maksudnya manusia sering melupakan janjinya kepada Tuhan.
2. Al-Insan diambil dari kata nasa-yanusu yang berarti bergoncang
3. Al-Insan diambil dari kata ins yang berarti jinak.
REFERENSI : MANUSIA
DALAM PERSPEKTIF FILSAFAT (uin-malang.ac.id)
Al-Basayar berarti tampak baik dan indah, gembira,
menguliti. Sebanyak 123 x kata al-Basyar disebut dalam al-Al-Qur’an pada
umumnya bermakna gembira, 37 x bermakna manusia dan 2 x berkaitan dengan
hubungan seks. Kata al-Insan mengandung pengertian manusia sebagai makhluk
sosial dan kultural/keilmuan. Al-Basyar mengandung pengertian realitas manusia sebagai pribadi
yang kongkret, manusia dewasa yang sedang memasuki kehidupan bertanggung jawab
sebagai khalifah di bumi (A. Mu’in, 1994:81). Manusia terdiri dari jiwa dan raga. Dia adalah unik. Tidak ada makhluk seunik dan
seajaib seperti manusia. Manusialah yang mampu menguasai alam semesta ini.
Binatang sebuas apapun dengan kreativitas akalnya bisa ditaklukkan. Dialah
manusia ajaib.
Berikut pandangan
filsafat terhadap manusia dari beberapa sudut pandang yakni dari:
Teori descendensi, Teori ini meletakkan manusia sejajar dengan
hewan berdasarkan sebab mekanis. Artinya manusia tidaklah jauh berbeda dengan
hewan, dimana manusia termasuk hewan yang berfikir, melakukan segala aktivitas
hidupnya, manusia juga tidak beda dengan binatang yang menyusui.
Beberapa ahli filsafat
berbeda pemikiran dalam mendefinisikan manusia. Manusia adalah makhluk yang
concerned (menaruh minat yang besar) terhadap hal-hal yang berhubungan
dengannya, sehingga tidak ada henti-hentinya selalu bertanya dan berpikir.
Untuk menjadi manusia sempurna haruslah memiliki
unsur-unsur sebagai berikut :
a. Rasionalitas
b. Kesadaran
c. Akal
budi
d. Spiritualitas
e. Moralitas
f. Sosialitas
g. Keselarasan
dengan alam
C. TEMA 3 (Filsafat Peripatetisme)
Filsafat Peripatetisme atau
disebut juga al-Falsafah al-Masysya’iyyah. Apa itu filsafat
peripatetisme? Setelah mencari dari berbagai jurnal dan sumber-sumber di
internet, akhirnya saya bisa menyimpulkan bahwa istilah perapatetisme berasal
dari bahasa Yunani yaitu peripatein yang artinya berkeliling
dan peripatos yaitu beranda serta isme yang
berarti aliran. Berarti peripatetisme bisa berarti “Ia yang berjalan
mengelilingi”. Arti ini merujuk pada Aristoteles yang selalu berjalan-jalan
mengelilingi muridnya ketika Ia mengajar filsafat. Dalam Bahasa Arab, kata
peripatetisme ini dikenal dengan istilah masysya’i yaitu berjalan berputar. Dan
alirannya disebut masysya’iyyah.
Jadi peripatetisme adalah
sebuah aliran filsafat yang menerapkan metode yang pernah digunakan oleh
Aristoteles kepada muridnya yaitu dengan berjalan-jalan dan mengililinginya.
Dalam filsafat Islam,
aliran masysya’iyyah pertama kali dikenalkan oleh al-Farabi yang dijuluki
sebagai guru kedua (almuallimu tsani). Dan mencapai puncaknya secara sempurna
dan besar-besaran pada masa Ibnu Sina yang mempunyai gelar al-Syekh al-Ra’is,
yaitu guru besar dan sang pemimpin. Dan karena keduanya, filsafat memperoleh
eksistensinya di agama Islam.
Hidup Ibnu Sina
Menurut jurnal yang saya
baca dengan judul “Agama dan Filsafat Dalam Pemikiran Ibnu Sina” menjelaskan
bahwa Ibnu Sina dilahirkan di kampung Afsyanah, dekat dengan kawasan Bukhara
pada tahun 370 H atau 980 M. Nama lengkapnya adalah Abu Ali al-Husein ibn
Abdulah Ibn Sina. Ia seorang al-hakim al-masyhur atau filosof yang sangat
terkenal hingga diberikan gelar al-Syeikh al-Ra’is.
Pada usianya yang ke
sepuluh, Ia sudah hafal al-Qur’an, sastra, dan dapat menghafal beberapa pokok
agama Islam, matematika dan debat. Kemudian menginjak usia enam
belas tahun, Ia telah dikenal sebagai dokter yang ahli dalam berbagai macam
penyakit. Dua tahun setelahnya Ia telah menguasai filsafat dan berbagai ilmu
pengetahuan seperti matematika, astronomi, musik, mistik, bahasa dan ilmu hukum
islam. Namanya pun semakin terkenal dalam dunia kedokteran, terutama setelah Ia
mampu menyembuhkan penyakit yang diderita oleh Sultan Bukhara yang imbalannya
Ia diberi hadiah perpustakaan pribadinya yang berisi buku-buku yang jarang ada
di perpustakaan lainnya.
Ia memiliki kesungguhan
yang luar biasa dalam mencari ilmu dan bekerja. Pada saat siang, Ia mencari
nafkah dan pada malam hari, Ia bertafakur. Ia selalu berdoa, beribadah,
dan membaca. Pernah juga dikatakan bahwa Ibnu Sina pernah membaca selama empat
puluh kali buku metafisika karangan Aristoteles, tetapi Ia tidak memahaminya.
Lalu Ia membaca buku karangan al-Farabi yang Ia dapatkan dari pedagang yang
menjual buku bekas dengan harga murah. Dengan mudah, akhirnya Ia dapat memahami
buku Aristoteles dan menghafal isinya.
Karya Ibnu Sina
Masih dari jurnal yang
sama, karya Ibnu Sina juga dijelaskan di dalamnya. Beliau memiliki karya yang
sangat banyak serta kelengkapan risalahnya jauh melampaui risalah manapun.
Seorang sarjana Dominican telah menyusun daftar kitab-kitab dari 276 tulisan
dalam bentuk buku ataupun manuskrip. Dan diantaranya, buku-buku yang terkenal
adalah:
1.
Kitab Asy-Syifa.
Sebuah tulisan tentang filsafat yang dibagi dari empat bagian, yaitu: mantik,
matematika, fisika, dan metafisika. Kitab ini sangat tebal dan terdiri dari
delapan belas jilid. Dengan kitab ini, Ibnu Sina telah memperoleh keuddukan
yang sangat tinggi baik di dunia timur maupun barat. Kitab ini adalah
eskiklopedia studi Islam Yunani pada abad ke 11 yang Ia susun dari logika
sampai matematika dan metafisika.
2. Kitab Al-Najat.
Adalah ringkasan kitab Al-Syifa yang lebih banyak dibaca
daripada al-Syifa itu sendiri. Dan ditulis untuk orang-orang
terpelajar yang ingin mengetahui dan memahami dengan lengkap dasar-dasar ilmu
hikmah. Buku ini dicetak pertama kali pada tahun 1331 M di Mesir.
3. Kitab al-Qanun
fi al-Thibb (Qanon of Medice), terdiri dari lima bagian, telah
diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa Eropa dan menjadi literatur pokok di
berbagai universitas di Eropa sampai akhir abad ke-17. Hingga kini masih
menjadi manuskrip di bidang kedokteran.
4. Kitab al-Isyarat
wa al-tanbihat. Ini merupakan kitab terakhir yang ditulis Ibnu Sina. Buku
yang paling indah dalam ilmu hikmah. Isinya mengandung berbagai mutiara dari
ahli pikir dan rahasia yang sangat berharga.
Dari
karya-karya ini, ajaran filsafat Peripatetisme diterapkan oleh Ibnu Sina.
Sebagai penekunnya, Ibnu Sina dapat menguasai, memahami, dan mengaplikasikan
ilmunya secara tepat. Dan dapat meraih pengetahuan yang benar.
Gagasan Ibnu Sina
Mencari
jurnal dan referensi lainnya, akhirnya saya menemukan jurnal yang berjudul “Ibnu
Sina: Pemikiran Filsafatnya Tentang Al-Fayd, Al-Nafs, Al-Nubuwwah, dan
Al-Wujud” untuk mengetahui tentang gagasan dan pemikiran Ibnu Sina.
Dan masih membaca dari jurnal sebelumnya, saya dapat menyimpulkan bahwa menurut
Ibnu Sina, falsafah dibagi menjadi dua bagian yaitu ilmu teoritis atau hikmah
nadzariyah dan ilmu praktis atau ‘Amaliyah.
1. Teori
Ontologi Ibnu Sina
Filsafat Ibnu Sina menandai
puncak filsafat paripatetik Islam yang didasarkan pada ontologi. Sehingga Ibnu
Sina juga disebut sebagai filosof wujud. Menurutnya ada tiga hukum untuk
membedakan wujud murni dengan eksistensi dunia.
Pertama, al-wajib
al-wujud, adalah realitas yang harus ada dan tidak bisa
tidak ada. Hanya ada satu yakni eksistensi Tuhan.
Kedua, al-Munkin al-Wujud,
yakni transedensi rantai wujud dan tatanan eksistensi cosmis dan dunia yang
bersifat pluralistis adlah tergantung pada al-wajib al-wujud.
Ketiga, al-Muntani’
al-wujud, yaitu wujud yang tidak mungkin.
2. Filsafat
Emanasi (al-Fayd) dan Kosmologi Ibnu Sina
Filsafat emanasi dalam
teologi dan falsafah Islam bermaksud untuk memurnikan tauhid. Emanasi adalah
teori tentang keluarnya suatu Wujud Mumkin (alam makhluk) dari
zat yang Wajib al-Wujud. Teori ini juga disebut sebagai teori
urut-urutan wujud. Pada dasarnya adalah pengeluaran akal-akal. Akal pertama,
berta’aqqul mengeluarkan akal kedua, disampingnya juga mengeluarkan
wujud yang lain.
3. Filsafat
Jiwa Ibnu Sina (al-Nafs)
Jiwa sebagai prinsip kehidupan,
merupakan sebuah pancaran (emanasi) dari akal kecerdasan aktif. Ibnu Sina
membagi jiwa menjadi tiga bagian, yaitu Jiwa nabati (ruh nabati), ia
mempunyai daya makan, tumbuh, dan berkembang biak. Kedua, jiwa binatang (ruh
Haywani) yang mempunyai daya gerak pindah dari satu tempat ketempat yang
lain dan daya menangkap dengan panca indra. Ketiga, jiwa manusia (ruh Insani)
mempunyai satu daya yaitu berpikir yang disebut akal.
4. Filsafat
Kenabian (al-Nubuwwah)
Ada empat tingkatan
rasionalitas, yang terendah adalah rasionalitas material (al-'aqlalhayûlâni).
Terkadang Tuhan akan memberi manusia hikmah materi yang maha kuasa dan sakti,
menurut Ibnu Sina (Ibnu Sina), itu diberi nama "alhads".
Kekuatan dalam pemikiran material ini begitu kuat sehingga mudah untuk
berhubungan dengan "kecerdasan aktif" tanpa pelatihan, dan mudah
untuk mendapatkan cahaya atau pencerahan dari Tuhan. Kecerdasan seperti ini
memiliki kekuatan kesucian (quwwah qadasiyyah) yang merupakan bentuk
nalar tertinggi yang dapat diperoleh umat manusia, namun nalar semacam ini
hanya dapat ditemukan pada para nabi.
Dari semua materi yang
sudah saya baca dari berbagai jurnal dan referensi, dapat disimpulkan bahwa
Peripatetisme adalah sebuah metode dalam pengajaran dan pemahaman filsafat.
Dalam dunia islam, ini disebut sebagai al-Falsafah al-Masysya’iyyah. Dan
Ibnu Sina adalah pemimpin dan guru besar yang mencapai puncaknya secara
sempurna dengan menggunakan Peripatetisme sehingga dapat menguasai, memahami,
dan mengaplikasikan ilmunya secara tepat. Dan dapat meraih pengetahuan yang
benar. Sehingga Ibnu Sina dapat melahirkan karya-karya terkenal dan
gagasan-gagasannya yang tepat dan luar biasa serta masih menjadi sebuah
literatur pokok hingga kini.
Referensi
Ibrahim.
(2016). Sinergi Akal dan Wahyu Dalam Filsafat Peripatetisme Islam: Jurnal
Aqidah. 2 (1), 1-10.
Nur,
Abdullah. (2009). Ibnu Sina: Pemikiran Filsafatnya Tentang Al-Fayd, Al-Nafs,
Al-Nubuwwah, dan Al-Wujud: Jurnal Hunafa. 6 (1), 105-116.
Gozali,
Mukhtar. (2016). Agama dan Filsafat Dalam Pemikiran Ibnu Sina: Jurnal Aqidah
dan Filsafat Islam. 1 (2), 22-36.
PENUTUP
Alhamdulillah, selesai sudah laporan catatan belajar mandiri
Filsafat Islam. Semoga catatan ini berguna untuk para pembaca dan terutama
untuk saya sendiri. Terimakasih untuk semua pihak yang telah membantu saya
menyelesaikan laporan ini, semoga semua orang diberi keberkahan oleh Allah di
tahun 2021 nanti, aamiin.
0 komentar:
Posting Komentar